Adi Triasmara

Adi Triasmara

Monday, November 20, 2017

Cara Memberikan Kritik yang Berdampak ala "Radical Candor"


Motivator Muda Indonesia | Beberapa waktu yang lalu, saya dapat pertanyaan dari bukan-adik-kandung saya, Aisha Arista. Kurang lebih pertanyaannya gini: "Oke nggak sih, kalo kita mengkritik pemerintah lewat art?"

Kalau menurut kamu gimana? Kalau kamu yang ditanya oleh Arista, jawaban kamu apa? 

Waktu itu saya menjawab: "Ya bagus-bagus aja. Mau mengkritik dengan media apapun, menurut saya sih nggak masalah. Nah, lebih bagusnya lagi, kalau kita mengkritisi, BUKAN hanya mengkritik. Jadi, kita nggak cuma menyoroti masalahnya, tapi juga menawarkan SOLUSINYA." 

Gimana jawaban saya? Udah bijak kayak Mario Sungguh belum? Hehehe ^^

Well, bukannya sok bijak sih, tapi menurut saya pribadi, kadang kita terjebak dengan kebiasaan mengkritik orang. Kadang kita cuma menyoroti hal-hal yang menurut kita salah, TANPA mencoba memberikan tawaran untuk penyelesaian masalahnya. Kritik kan selalu datang dengan saran. Betul?

Ibaratnya gini deh... 

Saat saya sedang mengajar dan menulis di papan tulis, tanpa sengaja saya menodai kemeja saya dengan tinta spidol. Saya tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah dan membuat saya nggak nyaman. 

Tiba-tiba, seusai kelas, saya bertemu dengan Si A yang mengatakan, "Bro, bajumu kena tinta spidol tuh. Nggak asyik banget deh dilihatnya!" Udah, gitu doang :D

Kita bahas ya. Apa yang dikatakan Si A, sama sekali nggak menyelesaikan masalah. Kenapa? Karena pertama, saya tahu kalau baju saya terkena tinta. Kedua, saya juga tahu kalau baju saya nggak asik dilihat (karena ada tinta). Bagaimana saya tahu? Ya karena saya adalah orang yang mengalaminya. 

Bukan hanya nggak menyelesaikan masalah, kritik Si A justru juga malah memperkeruh suasana, membuat saya semakin nggak nyaman dengan keadaan. 

Setelah bertemu dengan Si A, saya bertemu dengan Si B. Ini yang kemudian ia katakan:

"Eh, pakaian kamu hari ini keren deh. Warnanya pas banget sama kulitmu. Pola kemejanya juga cocok sama postur badanmu. Tapi sayang banget ya harus kena tinta. Eh, coba deh semprot pakai hairspray yang berbahan dasar alkohol. Aku dah pernah nyoba. Ampuh! Kamu pinjam aja ke Anto, dia bawa kok."

Menurut saya pribadi, Si B punya pola yang baik dalam menyempaikan kritik. Pola yang ia pakai juga pernah dibahas di buku RADICAL CANDOR - Be a Kick-ass Boss Without Losing Humanity karya Kim Malone Scott, wanita yang pernah bekerja di Google. Yuk kita bahas. 


PERTAMA, Si B menyampaikan pujian yang tulus dan spesifik untuk mendapatkan perhatian dari saya, subjek yang ingin ia kritik. Well, rasanya saya harus menggarisbawahi kata tulus dan spesifik. Kenapa? Karena banyak orang yang kerap memberikan pujian yang sekedar formalitas. Pujian palsu. 

Pujian yang diberikan Si B memang disampaikan dengan hati. Ia juga spesifik dengan menyebutkan hal-hal mana aja yang menurutnya bagus, dalam hal ini adalah warna dan pola baju. 

KEDUA, setelah Si B menyampaikan pujiannya, ia memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang salah. Ia mengkritik saya karena baju yang saya pakai harus terkena noda. Kritik yang ia sampaikan juga jelas sifanya, bukan abstrak. Nggak hanya bilang "jelek", tapi memberi tahu bagian mana yang rasanya kurang pas. 

KETIGA, Si B menawarkan solusi yang nyata. Unsur yang ketiga ini sangat penting. Kenapa? Karena unsur ini lah yang akhirnya membangun saya, membuat saya menemukan solusi dari masalah yang sedang saya hadapi.  

Pola memberikan kritik inilah yang dianggap Kim Scott menjadi pola penyampaian kritik yang BERDAMPAK pada perubahan ke arah yang lebih baik: 

PUJIAN TULUS + KRITIK + SOLUSI NYATA

Scott, dalam buku Radical Candor-nya, juga mengatakan bahwa sebaiknya kita menghindari pola SANDWICH dalam memberi kritik atau feedback. Maksudnya, menyelipkan kritik di antara pujian.


Kita sama-sama tahu kalau nggak sedikit kritik yang hanya sekedar masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Nggak sedikit juga kritik yang meninggalkan luka atau trauma bagi penerimanya. Kritik-kritik seperti itulah yang nggak memberikan dampak perubahan baik bagi penerimanya. Lebih parah lagi, kalau kritik itu disampaikan di depan umum. 

So, bagaimana denganmu?

Semoga kita termasuk orang-orang yang saling membangun satu sama lain dengan menyampaikan kritik dengan pola tepat dan berdampak perubahan positif ya! Aamiin... Share yuk pengalamanmu di kolom komentar! ^^

0 komentar:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com