Adi Triasmara

Adi Triasmara

Sunday, September 10, 2017

Ingin Jadi Penulis? Simak 5 Nasihat Tere Liye Berikut Ini!


Tere LiyeBagi kamu yang hobi baca, tentu nama ini nggak asing lagi di telingamu, dong ya! Pria kelahiran 21 Mei 1979 ini adalah penulis 28 buku yang sangat terkenal di Indonesia. Dan dalam beberapa tahun terakhir, karya-karya Tere Liye menjadi karya-karya yang sangat digemari dan dinanti masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta novel. 

Senang sekali, kemarin Sabtu - 9 September 2017, Alhamdulillah saya berkesempatan untuk bertemu dengan Bang Tere Liye secara langsung. Yap, saya bertemu beliau dalam acara workshop kepenulisan yang diadakan oleh @studentcare_id di Universitas Paramadina. 

Terus terang, saya memang bukan pembaca buku-buku Tere Liye. Lebih tepatnya, saya bukan pembaca buku-buku Fiksi. Jika ada 100 buku di perpustakaan pribadi saya, paling hanya ada 5 buku fiksi, salah satu diantaranya adalah HUJAN. Sisanya, non-fiksi. 

Walaupun gitu, saya tahu bahwa Bang Tere Liye bisa jadi salah satu role model terbaik di dunia kepenulisan. Di acara itu, saya belajar banyak dari beliau. 

Nah, melalui tulisan ini, ijinkan saya membagikan apa-apa saja yang saya pelajari dari beliau lewat pertemuan itu ya.

Kita mulai dengan sebuah kesepakatan, yuk! 

Buat kamu yang punya cita-cita menjadi seorang penulis, setuju nggak sih kalau kelihatannya jadi Bang Tere Liye itu enak? Jadi penulis yang kalau ngeluarin karya pasti laris. Jadi penulis yang bukunya selalu ditunggu-tunggu oleh publik. Jadi penulis yang bahkan kadang punya rak tersendiri di toko-toko buku. Bayangin deh... Boleh kita sepakat kalau itu tuh asyik banget? ^^ 

But, that's just the top of the icerberg, fellas! 

Itu hanyalah HASIL yang sekarang kita lihat. Kita nggak tahu seberapa besar perjuangan Bang Tere Liye sebelum akhirnya ia ada di posisinya saat ini. 

Ia mengaku bahwa 12 tahun yang lalu, saat perjuangannya sebagai penulis novel dimulai, hampir nggak ada yang mengenal siapa itu Tere Liye. Bahkan ada cerita unik di balik peluncuran novel pertamanya, Hafalan Shalat Delisa (2005) - yang juga sudah di filmkan. 

Saat dikabari bahwa novel itu sudah terbit, Bang Tere Liye sangat senang. Pasti dong! Namanya juga buku pertama yang berhasil terbit. Sama seperti perasaan saya saat akhirnya melihat karya saya, buku SIMPLE & EASY ENGLISH (2017), ada di rak buku Gramedia. Seneng banget, sob! ^^ 




Anyway, balik ke Bang Tere Liye. Saking semangat dan senangnya karena bukunya sudah didistribusikan, ia langsung pergi ke Gramedia Depok, Gramedia terdekat dari tempat tinggalnya. Ia berjalan kaki sejauh 400 meter tanpa rasa lelah. 

Sesampainya disana, Bang Tere Liye mencari bukunya di rak buku NEW ARRIVALS. Sayangnya, buku itu nggak nampak. Kemudian ia mencari ke rak NOVEL, bukunya itu pun nggak nampak. Mmm.. Dimanakah gerangan buku itu di-display? Yap, ternyata novelnya dipajang di rak AGAMA ISLAM, tepatnya di sebelah buku panduan shalat yang selama ini sering kita lihat! Gubrak! 

Bahkan buku Hafalan Shalat Delisa dianggap buku Bid'ah (tentu bercanda), karena biasanya yang ada hanyalah buku Hafalan Shalat Wajib atau Hafalan Shalat Sunnah, bukan Hafalan Shalat Delisa. Shalat apa itu Shalat Delisa? What a misconception that was! :D

By the way... Dari cerita-ceritanya, Bang Tere Liye menggarisbawahi beberapa hal penting bagi siapapun yang ingin menjadi penulis. Yang pertama, ia mengatakan:


"Menulis itu TIDAK membutuhkan bakat. Menulis itu DITUMBUHKAN!"

Ia mengatakan bahwa memang betul ada anak-anak yang terlahir dengan bakat menulis yang bagus. Mereka mampu menulis sajak atau puisi yang menggetarkan hati pembacanya. "Tapi, kalau mau jadi penulis hebat dan produktif, percayalah, dik. Percayalah bahwa bakat itu nggak dibutuhkan!", ungkap Bang Tere Liye.  

Kedua, Bang Tere juga mengingatkan bahwa pada dasarnya, jika kita sudah memiliki keinginan untuk menjadi penulis, kita sudah memiliki "nyala api" di dalam hati kita. Tugas kita adalah:

"Jagalah 'nyala api' itu tetap menyala. Jadikannya semakin besar dan semakin terang, dari waktu ke waktu." 

Ia mengingatkan kita untuk terus menggingit motivasi menulis kita dengan kuat. Untuk menggigit motivasinya tetap kuat, Bang Tere Liye mengaku membuat satu komitmen dalam dirinya. Sebuah komitmen yang ia tetapkan 12 tahun yang lalu saat novel pertamanya muncul. 

Komitmen apa itu?

Ya, sebuah komitmen untuk minimal menerbitkan satu karya buku setiap tahun. Dan ternyata, komitmen itu membuatnya menulis 28 buku dalam 12 tahun terakhir. Artinya, dalam satu tahun, ia minimal sudah menerbitkan dua buku. GOKS! 

Ketiga, Bang Tere Liye mengaskan bahwa jika kita benar-benar ingin menjadi penulis, maka...

"Tugas utama kita adalah... MENULIS!"

Bang Tere Liye dengan tegas mengingatkan kita agar nggak terjebak di dunia maya, di Facebook, di Twitter, di Instagram, dan media sosial yang lainnya. Kenapa? Karena jika kita ingin menjadi seorang penulis, pertanyaan yang orang tanyakan adalah, "Mana tulisan terbarumu hari ini?", BUKAN "Mana status terbarumu hari ini?"atau "Mana foto terbarumu?".

Bang Tere Liye juga menyatakan satu hal yang cukup mencengangkan, at least bagi saya. Hehehe.. Apa itu?

Seorang Tere Liye, penulis super-produktif yang menulis dua buku dalam satu tahun, mengaku kalah produktif dari kita! Kok bisa?!

Ia bilang, "Kalian bisa mengetik 1.000 kata per-hari, dik. Kalau nggak percaya, nanti waktu pulang, coba hitung. Berapa kata yang kalian tulis lewat WhatsApp, LINE, twitter, Instagram, Facebook, dll. Mungkin kalian ada yang baru gabung Twitter 6 bulan, tapi boleh jadi kalian udah nge-tweet 20.000 kali. 1 tweet itu setara 10 kata. Kalau 20.000 kali, maka setara dengan 200.000 kata."

Mmm.. Sebelum lanjut baca sampai selesai, saran saya, ulangi lagi deh baca paragraf di atas. Kita resapi dan renungkan baik-baik. Ya, kita. Kamu dan saya :)

Dengan santai, Bang Tere Liye pun menambahkan...


"Dik, novel itu cuma 50.000 kata, rata-rata. Artinya siapa yang lebih produktif? Saya atau kamu? Kamu bisa membuat 4 buku dalam 6 bulan, saya? Hanya satu! Pahami situasi ini."

Sadis ya? Hehehe.. Ternyata kita produktif juga! Namun sayangnya belum mampu menggunakan produktivitas kita kurang tepat sasaran ^^ 

Bahkan saat kita sedang bingung mau nulis apa, Bang Tere Liye pun menyarankan kita untuk tetap menulis. Misal, dengan tulisan seperti ini:

"Aduh, aku bingung sekali mau nulis apa nih. Mmm... Nulis apa ya enaknya. Kejadian menarik apa yang baru terjadi. Oh! Aku ingat! Semalam PERSIB menang melawan ..." 

Mungkin terlihat aneh, tapi benar juga jika dimasukkan ke dalam logika. Itupun juga bisa kita sebut TULISAN, kan? 

Nasihat keempat adalah FOKUS MENULIS! Jika nasihat ketiga tadi adalah tetaplah menulis, maka nasihat keempat ini adalah fokus menulis. Izinkan saya menjelaskan bedanya. 

Bang Tere Liye mengatakan bahwa banyak penulis pemula yang sudah terlalu memusingkan masalah teknis. Bang Tere Liye mengaku sering mendapatkan pertanyaan:

"Bang Tere, bagaimana membuat awal kalimat yang baik?"
"Bagaimana cara mengakhiri cerita dengan menarik?"
"Bagaimana menemukan gaya bahasa"
"Bang Tere, maukah memberi masukan dan review untuk tulisanku?"
"Maukah membaca puisiku?"

... dan lain sebagainya. 

Yang dimaksud fokus menulis adalah kita diminta untuk menaruh perhatian kita pada aktivitas menulis saja, memperbaiki tulisan sambil jalan. Karena kalau fokus tentang teknis, kita nggak akan pernah menulis karena misalnya takut salah, takut hasilnya jelek, takut nggak ada yang suka, dan lain-lain. "Fokuslah menulis!", kata Bang Tere Liye. 

Nasihat kelima, yang terakhir, adalah... Mulailah berproses dan jadilah tahan banting. 

Bang Tere Liye mengingatkan bahwa 'Tere Liye' yang sekarang kita lihat, kita kenal, nggak 'jadi' dalam satu atau dua hari. Nggak 'jadi' dalam satu malam saja. 'Tere Liye' yang kita lihat dan kenal saat ini telah melalui sebuah PROSES yang panjang, at least 25 tahun sejak pertama ia mulai menulis artikel tentang Ekonomi Politik untuk harian Kompas.

Ia mengatakan bahwa setiap orang memiliki waktu dan proses yang berbeda-beda untuk sampai di titik yang ia inginkan. 

Lalu, Bang Tere juga menyampaikan, walaupun kelak kita sudah ada di titik yang kita inginkan, katakanlah menjadi seorang penulis yang hebat, ujian nggak akan pernah berhenti berdatangan. Misal, motivasi kita hilang atau tulisan kita banyak yang mencela hingga akhirnya orang mem-bully kita. 

"Saat itulah saat motivasi terbaik kita dipanggil: Kalian menulis karena apa? Apa tujuanmu menjadi penulis? Bagi saya, penulis yang baik adalah penulis yang tidak pernah berhenti untuk menulis." (Tere Liye)

So, itu dulu yang bisa saya bagikan di tulisan kali ini. Semoga tulisan ini membawa manfaat dan pencerahan bagi kita semua. Aamiin...

Oiya, saya hampir lupa!

Di IG Story saya pagi ini di @aditriasmara, saya janji mau kasih tau satu novel Bang Tere Liye yang akan di film-kan. Saat kemarin hadir di Paramadina, Bang Tere Liye mengatakan bahwa novelnya yang berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" akan segera diangkat ke layar lebar. Kita tunggu saja ya! ^^

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan Bookmark halaman ini dan SHARE ke orang-orang terdekatmu yang ingin jadi penulis ya!

4 comments:

  1. Terima kasih Dimas atas pencerahannya. Tulisannya bagus, komplit, dan bahasanya mengalir :)

    Saya banyak belajar dari tulisan ini, tinggal menerapkannya dalam hidup sehari - hari. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mas Arry. Saya juga cuma membagikan pikiran dan inspirasi dari Bang Tere Liye. Makasih udah mampir dan baca tulisannya! ^^

      Delete
  2. Terima Kasih atas ulasannya Mas Adi. Sangat mencerahkan, semoga api itu terus menyala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Mas Rio. Mari sama-sama menjaga nyala api semangat itu! ^^

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com