Adi Triasmara

Adi Triasmara

Thursday, August 17, 2017

Sebuah Catatan Kemerdekaan #RI72: Impian, Jati Diri, & Pembuktian

ad-triasmara-penulis-buku

Lama nggak cerita nih...

Tapi sebelum cerita, saya mau tanya dulu deh...

*) Setuju nggak kalau setiap individu itu pada dasarnya UNIK alias beda antara yang satu dengan yang lainnya?
*) Setuju nggak kalau setiap individu, dengan keunikannya, memiliki KELEBIHAN dan KEKURANGAN-nya masing-masing?
*) Setuju nggak kalau setiap individu, gimanapun kondisi fisiknya, apapun latar belakang kedaerahan dan bahasanya, siapapun keluarganya, memiliki HAK yang sama untuk menggapai IMPIAN-nya?

Mudah-mudahan setuju ya!
Kalau setuju, silahkan manggut-manggut... Hehehe..

Mmm.. Okay. Saya mulai nih curhatnya.

Jadi gini... Saya itu tumbuh berkembang sebagai seorang yang "pendiam", setidaknya itulah yang banyak orang "label"-kan pada saya. Saya nggak menyalahkan hal itu. Memang pada dasarnya, saya adalah orang yang terlalu banyak bicara. So, label itu nggak sepenuhnya salah kok. Dan saya nggak protes akan hal itu ^^

Tapi kadang, kalau ingat-ingat masa lalu, bahkan juga kadang sampai sekarang, banyak orang yang kadang kok rasa-rasanya suka memandang sebelah mata orang-orang "pendiam".

Seorang pendiam yang selalu digambarkan sebagai sosok yang "pemalu"...
Seorang pendiam yang selalu dekat dengan pandangan bahwa ia "nggak friendly" dan "sombong"...
Seorang pendiam yang selalu dianggap nggak cakap berkomunikasi alias "kaku"...
Dan masih banyak lagi...

Kok jadi kesannya negatif semua ya? Kebayang dong gimana rasanya... Hehehe..

Bahkan, nggak jarang juga, ada orang yang sebel sama saya hanya karena saya pendiam. Padahal, kenal juga enggak.. Kenal enggak, sebel iya. Lah, salah gue apa sob? Cape deh! -.-

Untungnya, saya tumbuh berkembang sebagai orang yang memiliki tingkat ke-cuek-an level dewa! Alias cuek banget alias nggak peka banget.

Ada baik dan nggak baiknya sih jadi orang super cuek. Hal baiknya tuh saya nggak peduli dan nggak baper sama apa yang orang pikir dan bilang tentang saya, terutama judgement negatif. Hal nggak baiknya, pacar sering ngomel gara-gara saya kurang peka! Hahaha.. #Duh

Dulu, saya sempat merasa, "Kok gini banget ya rasanya jadi orang yang pendiam?" Dulu pula, saya sempat berusaha setengah mati untuk "menjadi orang lain" hanya untuk mendapatkan banyak teman. Untung, nggak mati beneran! Kenapa? Karena saya MENYESAL!

Ya, saya nyesel fokus sama kelemahan yang saya punya. Saya nyesel berusaha mati-matian cuma buat jadi orang lain. Padahal, Allah dah menciptakan kita dengan segala potensi yang ada di dalam diri kita. #MendadakReligius #LaluGelarSajadah

Saya belajar deh tuh dikit-dikit tentang dunia psikologi kepribadian manusia, termasuk belajar tentang konsep STIFIn (Sensing-Thinking-Intuiting-Feeling-Insting) dimana akhirnya ketemu deh konsep "SIAPA SAYA".

Dalam konsep STIFIn, saya termasuk orang yang punya kecerdasan berpikir "Thinking" yang letaknya di otak kiri bagian atas (neokorteks kiri). Saya termasuk orang yang mengandalkan PIKIRAN LOGIS yang nature-nya memang nggak banyak bicara dan menjaga jarak dengan orang lain (dingin). Disitulah saya banyak belajar bagaimana fokus memaksimalkan kekuatan yang ada di dalam diri. FOKUS SATU HEBAT.

Alhamdulillah setelah mengenal konsep STIFIn, hidup "Si Pendiam" ini lebih tenang ^^

Lalu, saya kadang juga melakukan refleksi... Maksudnya, refleksi proses berpikir yaa. Bukan refleksi pijat! Hehehe...

Saat refleksi, saya merasa bahwa apa yang saya lalui, apa yang saya lakukan, apa yang saya capai, semuanya menjadi sebuah proses PEMBUKTIAN KEKUATAN. Maksudnya gimana?

Gini. Secara natural, rasanya saya ingin membuktikan pada orang-orang bahwa "Si Pendiam" ini punya potensi. Saya ingin membuktikan bahwa "Si Pemalu" ini bisa melakukan sesuatu yang bermakna. Saya ingin membuktikan bahwa "Si Kaku" ini punya caranya sendiri untuk berkarya dan mewujudnyatakan mimpinya.

Salah satu bentuk pembuktian saya adalah saya ingin menjadi seorang Public Speaker.

Bagi beberapa orang, profesi Public Speaker ini hanyalah milik mereka yang banyak bicara, bukan milik "Si Pendiam." Kenapa? Ya karena tugas utama seorang public speaker ya bicara. Namanya juga "speaker".

Namun, saya buktikan bahwa anggapan itu salah. Saya belajar tentang Public Speaking dan akhirnya bisa meraih prestasi di bidang itu dengan menjadi Juara 1 dalam SpeakUp Contest - Young Trainer Academy 2 Jakarta yang diselenggarakan oleh CerdasMulia Institute. Semenjak itu, "Si Pendiam" ini pun beberapa kali mendapatkan undangan sebagai narasumber utama untuk mengisi pelatihan dan seminar.


Saya pernah diundang ke Jakarta, Bekasi, Bogor, Cilacap, Surabaya, dan kota-kota lainnya dengan kemampuan public speaking yang saya miliki. Universitas Indonesia, Universitas Mercu Buana, Kalbis Institute, SMA Negeri 1 Cilacap, dan beberapa institusi pendidikan lain pun pernah mengundang "Si Pendiam" ini untuk berbicara di depan para pelajarnya. Pembuktian berhasil! Alhamdulillah, 'kan? ^^


Saya juga pernah mendapat stigma bahwa orang-orang yang lebih "ramai" itu peluang suksesnya lebih besar! Padahal, Steve Jobs, Nelson Mandela, Jose Mourinho, Brad Pitt, dan Tiger Woods pun bukan orang yang "ramai", loh. Kurang sukses apa mereka? Hehehe..

Proses pembuktian selanjutnya pun dimulai!

Tiap orang memiliki definisi suksesnya masing-masing. Kalau kita tanya ke 100 orang, mungkin kita akan mendapatkan 100 definisi yang berbeda tentang kesuksesan. Betul?

Nah, bagi saya, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, salah satu hal yang membuat diri saya menilai bahwa saya sukses adalah dengan menerbitkan buku dalam skala nasional. Artinya, buku saya diterbitkan dan dijual di toko buku nasional seperti Gramedia.

Saya pun berusaha keras untuk menggapai impian itu. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa "Si Pendiam" ini punya caranya sendiri untuk mencapai impiannya. Perjalanan dimulai dengan rajin membuat konten tulisan di Facebook note dan blog aditriasmara.cerdasmulia.net (sekarang sudah non-aktif).

Kemudian, setelah beberapa waktu berjalan, saya pun berpindah ke blog pribadi saya aditriasmara.com pada tanggal 25 November 2015, tepat di ulang tahun ke-60 Ayahanda saya.

Setelah rajin menulis dan belajar dari Kak @ArryRahmawan - penulis buku best-seller "Studentpreneur Guidebook" dan founder CerdasMulia Institute, niat saya menerbitkan buku semakin tinggi. Anyway, Kak Arry ini adalah salah satu dari beberapa orang pertama yang membuat saya termotivasi untuk menulis. Thanks kak! ^^

Alhamdulillah, setelah belajar banyak dari beliau, buku pertama saya pun terbit. Sebuah buku pengembangan diri yang ditulis secara kolaboratif oleh para trainer muda yang berjudul "Sekeping Cinta". Buku ini akhirnya menjadi sumber motivasi baru, mencari sumber keyakinan bahwa saya pasti kelak bisa menulis buku sendiri dan menerbitkannya secara nasional.


Di akhir tahun 2016, tepatnya di bulan September, saya belajar dari Mas @BriliAgung, penulis 26 buku dan Founder Inspirator Academy, melalui program "Bikin Buku Club" Jakarta. Dalam program itu, saya dan teman-teman peserta program lainnya dibimbing dengan intensif untuk menyelesaikan naskah buku kami. Alhamdulillah, dari program itu, naskah buku saya akhirnya selesai!

Singkat cerita, setelah mengalami penolakan dari 3 penerbit mayor, akhirnya salah satu penerbit mayor di Yogyakarta, Penerbit Checklist, memutuskan untuk menerbitkan naskah saya yang berjudul SIMPLE & EASY ENGLISH. Buku tersebut diterbitkan pada tanggal 31 Juli 2017 sejumlah 3000 eksemplar dan saat ini sudah tersebar merata di seluruh Gramedia di Indonesia! Wah, Alhamdulillah! Kebayang dong gimana senangnya "Si Pendiam" ini!


Alhamdulillah juga, buku SIMPLE & EASY ENGLISH #SpecialEdition sebanyak 150 eksemplar sudah SOLD OUT dalam waktu 5 hari, tersebar ke 49 kota, 13 provinsi, dan 4 pulau besar yang ada di Indonesia. Apa kamu salah satu diantara orang-orang yang mendapatkan buku #SpecialEdition?  ^^

Anyway, pembuktian pun usai!  "Si Pendiam" bisa sukses mencapai impiannya tanpa perlu menjadi "ramai" :p

* * *

Pembuktian-pembuktian sederhana saya tadi sebenarnya nggak hanya saya perjuangkan untuk diri saya sendiri. Pembuktian-pembuktian ini pun saya tujukan untuk keluarga, adik, saudara, teman, serta murid-murid saya yang ada di sekolah.

Sederhananya, melalui pembuktian-pembuktian itu, saya hanya ingin menyampaikan PESAN kepada siapapun yang mengenal dan terhubung dengan saya, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

PESAN yang ingin saya sampaikan sederhana...

Setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk berpendapat, untuk menilai, bahkan untuk menghakimi kita. Tapi apa yang orang itu katakan nggak akan menentukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Apa yang orang itu katakan ggak menentukan masa depan kita. Jangan biarkan anggapan orang menghentikan impian kita. Jangan biarkan opini negatif merusak semangat kita untuk terus berusaha.

Kita lah satu-satunya orang yang bisa mendesain hidup kita sendiri dengan apa yang terus kita pelajari, apa yang terus kita lakukan, apa yang terus kita perjuangkan.

Percayalah bahwa kita terlahir dengan segala potensi yang ada di dalam diri kita. Yakinlah bahwa jika kita berusaha dengan maksimal, berdoa, dan terus berjuang tanpa kenal lelah, kita akan mampu membuat diri kita MERDEKA...

Ya, MERDEKA untuk menggapai impian kita. Ya, MERDEKA untuk menghasilkan sebuah karya. Ya, MERDEKA untuk menginspirasi negeri kita tercinta, Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku, aku bangga terlahir di tanah ini, tanah indah Sang Ibu Pertiwi! Terima kasih Indonesia!


2 comments:

  1. Setiap Orang Berhak Sukses,
    saya juga pernah mengalami yang Mas Adit rasakan.

    Sukses selalu Mas Adit. Terus Tumbuh dan Berkontribusi untuk semesta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mas Rio. Terima kasih sudah membaca artikel saya. Sehat dan sukses selalu ya! ^^

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com