Adi Triasmara

Adi Triasmara

Monday, April 10, 2017

Idealkah Mengadopsi Model AIDA dalam Marketing sebagai Metode Mengajar yang Efektif?


Setelah dipikir-pikir lagi, sewaktu saya sekolah dulu, ternyata banyak hal yang mempengaruhi prestasi saya ketika belajar di sekolah. Hal-hal itu diantaranya adalah fasilitas sekolah, materi pembahasan di kelas, teman-teman satu kelas saya, dan pastinya para guru beserta metode belajar yang mereka gunakan di kelas. Dalam tulisan ini saya akan fokus pada hal yang terakhir saya sebutkan tadi: Guru dan metode mengajarnya.

Mengapa saya hanya fokus pada hal tersebut? Apa hal yang lain nggak penting? 

Bukan seperti itu. Saya fokus pada guru dan metode mengajarnya karena selain saya saat ini berkarir sebagai seorang pendidik, saya juga yakin bahwa faktor guru adalah salah satu faktor esensial yang menentukan prestasi siswa. 

Bahkan, belakangan saya membaca sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Prof. John Hattie dari the University of Auckland yang mengatakan bahwa guru adalah faktor determinan tertinggi kedua, dengan angka 30%, terkait dengan prestasi siswa. 

Nah, tentu jika membahas secara keseluruhan tentang guru dan metode mengajarnya, tulisan ini akan sangat panjang a.k.a PUANJAAAANGGG BET! Hehehe.. Maka dari itu, saya akan fokus pada salah satu metode mengajar yang sudah saya terapkan setelah kurang lebih menjalani karir sebagai seorang pendidik selama lima tahun terakhir. Metode ini bernama AIDA

Apa itu AIDA? Well, mungkin sebagian dari kamu ada yang sudah tahu, namun ada juga yang belum. AIDA merupakan salah satu teori dasar yang dipakai dalam dunia pemasaran atau marketing untuk menjual suatu produk atau jasa. AIDA sendiri merupakan singkatan dari ATTENTION - INTEREST - DESIRE - ACTION. 

http://zenithmedia.ch/index.php?tinymceimg=grafik_1_1.png

Jadi, teori ini menekankan bahwa untuk membuat seseorang membeli produk atau menggunakan jasa yang kita tawarkan, kita harus menarik perhatian mereka, membuat mereka tertarik, membangkitkan keinginannya, dan tentunya memutuskan untuk menggunakan produk atau jasa yang kita tawarkan. Teori ini saya pelajari dari Pak Hasnul Suhaimi, mantan Presiden Direktur XL Indonesia.

"Loh, kok konsep marketing dipakai untuk mengajar?
Nggak cocok dong!"

Ijinkan saya menjelaskannya dengan lebih detil. Meski AIDA adalah metode yang lahir dari dunia marketing, namun saya percaya bahwa metode ini cocok diterapkan di dunia pendidikan. Seorang guru, dosen, bahkan seorang trainer pun bisa mengadaptasi metode ini dalam kelas-kelasnya. 

Saat kita mengajar, tentu kita memiliki tujuan yang ingin dicapai di akhir sesi pembelajaran. Biasanya, kita ingin murid, mahasiswa, atau trainee kita MAMPU melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Ingat ya, MAMPU. Bukan sekedar TAHU.


Bagi saya, proses mendidik bukan hanya proses transfer ilmu dari satu kepala ke banyak kepala. Lebih dari itu, proses mendidik adalah proses yang mampu mencerahkan pikiran, membangkitkan semangat, dan MENGGERAKKAN audiens untuk melakukan sesuatu. Singkatnya, sebagai seorang pendidik, saya akan membuat audiens (dalam hal ini siswa) saya agar TAHU, MAU, dan MAMPU. Nah, konsep AIDA inilah yang kerap menjadi "jembatan" bagi saya dalam meraih goal tersebut. 

Sebelum membahas lebih dalam lagi, saya ingin sedikit bercerita. 

* * *
Kemarin saat saya sedang bepergian, saya melewati sebuah restoran baru yang menarik perhatian saya dan juga banyak pengunjung. Restoran itu memutar musik dengan cukup keras dan menghadirkan "maskot" (boneka orang) yang berjoget di depan restoran dan siap menyapa dan berfoto dengan siapa saja yang ingin mampir ke restoran tersebut. Tak hanya itu, banner besar berwarna kuning terang bertuliskan BUY ONE GET ONE pun sangat jelas terpampang. 

Musik, maskot, dan banner besar itu cukup mencuri perhatian saya dan mampu menggiring saya untuk mendekat dan mencari tahu tentang menu yang ditawarkan. Setelah melihat menu dengan nama-nama yang unik dan tampilan gambar yang menarik, ditambah dengan sambutan hangat dari para pegawainya, saya pun memutuskan untuk menjajal makanan yang ada di restoran tersebut. Dan.. Walaaa! Maknyus juga ternyata! Hehehe..
* * *

Menurut saya, restoran ini sukses menerapkan metode AIDA dengan baik. Ia mampu mendapat perhatian saya (Attention), menghadirkan ketertarikan saya (Interest), memunculkan keinginan saya (Desire), dan akhirnya membuat saya membeli (Action). 

Sama halnya dengan proses pendidikan, kalau kita ingin membuat murid kita TAHU, MAU, dan MAMPU, kita juga harus mampu mendapat perhatian mereka, membuat mereka tertarik, memunculkan keinginan mereka untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya membuat mereka melakukan apa yang menjadi tujuan pembelajaran kita.

ATTENTION. Bayangkan jika restoran itu nggak memutar musik, menghadirkan maskot, dan memasang banner besar berwarna cerah. Mungkin nggak banyak orang yang tahu bahwa restoran itu baru buka dan menawarkan promo. Lebih parahnya lagi, mungkin ada juga beberapa orang yang bahkan nggak tahu kalau disitu ada restoran. Hehehe..

Sebagai seorang pendidik yang menghadapi murid-murid dengan latar belakang dan ketertarikan yang berbeda, mendapatkan Attention di awal pembelajaran. Setiap guru, dosen, atau trainer yang masuk ke dalam kelas, akan bersaing dengan penarik perhatian lain yang ada di lingkungan audiens. Misalnya, HP, film yang sedang hits, konser musik yang baru mereka kunjungi, buku yang sedang mereka baca, dan masih banyak hal lain yang bisa jadi lebih menarik daripada apa yang akan kita sampaikan. Untuk itu, kita harus mampu menarik perhatian mereka dengan cepat. 

https://www.teachermagazine.com.au/files/Raising_the_professional_status_of_teaching.jpg

Tentu banyak hal yang bisa dilakukan seperti misalnya membuka kelas dengan games-games sederhana pemecah suasana, dengan jokes, dengan sebuah cerita yang menginspirasi dan berhubungan dengan pembelajaran, bahkan dengan sebuah pantun. Dapatkan perhatian siswa sesegera mungkin, dengan cara yang POSITIF, untuk masuk ke tahapan metode selanjutnya. Yang saya maksud positif adalah dengan mencoba untuk nggak marah-marah, nggak bentak-bentak, dan lain sebagainya. Awali dengan kebahagiaan. Hehehe.. 

Anyway, kalau saat ini kamu Google dan menemukan bahwa ada versi yang mengatakan bahwa A dalam AIDA adalah AWARENESS, nggak perlu bingung dan khawatir. Intinya sama kok.

INTEREST. Kembali ke masalah restoran, kebayang nggak kalau misalnya setelah saya mendapatkan perhatian restoran itu, tapi nggak ada sesuatu yang membuat saya tertarik setelahnya. Menunya biasa-biasa saja, harganya nggak spesial, ruangannya sempit, ya pasti saya nggak akan Action dong, saya nggak akan beli. 

Dalam kelas, jika perhatian nggak diubah menjadi ketertarikan, maka semua usaha yang kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian mereka akan sia-sia. Mereka akan kembali dengan "perhatian mereka masing-masing" jika ketertarikan dalam kelas nggak muncul. Cobalah untuk memunculkan ketertarikan dengan beragam cara yang menurut kamu paling efektif. Kamu bisa membawa alat peraga, menampilkan video, atau media pembelajaran lainnya. Intinya, menurut saya pribadi, siswa akan tertarik jika ia tahu dengan pasti tujuan ia belajar. Jawablah pertanyaan, "Mengapa murid, mahasiswa, atau trainee saya harus paham tentang materi yang saya ajarkan?" 

http://cdn.kingston.ac.uk/includes/img/cms/site-images/orig/kingston-university-de14fde-international-students---kingst.jpg

Usahakan untuk nggak menjawab pertanyaan itu dengan jawaban, "Ini tuntutan kurikulum." Jawablah dengan mengaitkan apa yang kita akan ajarkan dengan kehidupan NYATA para audiens. Kaitkan dengan manfaat NYATA yang bisa audiens rasakan kelak setelah mereka paham apa yang kita sampaikan.

DESIRE. Keinginan kuat saya muncul saat para pegawai restoran menyambut saya dengan baik, menjelaskan tentang menu-menu favorit yang jadi menu unggulan di restoran tersebut. Salah satu pegawai restoran juga menjelaskan tentang keunggulan yang dimiliki oleh resto ini seperti misalnya koneksi wifi dan photo booth menarik yang disediakan di lantai atas. 

Dalam pembelajaran, proses ini ditandai dengan keinginan kuat siswa untuk melakukan Action atau tindakan. Bagaimana memunculkan keinginan ini? Tentu banyak caranya seperti misalnya terus menggali rasa penasaran yang ada di dalam diri siswa sehingga mereka ingin mencoba dan menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang dibahas. Selain itu, guru juga bisa memberi contoh tentang kesuksesan-kesuksesan yang diperoleh oleh salah satu tokoh ternama yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sedang menjadi fokus pembelajaran. Intinya, Desire adalah Call to Action atau panggilan untuk bergerak, panggilan untuk melakukan sesuatu. 

http://indonesiaexpat.biz/wp-content/uploads/2015/06/Teaching-abroad.jpg

Kadang kamu juga bisa menjelaskan kepada para murid tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari jika pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari ini gagal dikuasai oleh mereka. 

ACTION. Ya, langkah terakhir adalah tindakan. Langkah terakhir adalah duduk manis, menyantap menu favorit, kemudian membayar pesanan saya. Hehehe..   

Apa yang kita bangun sejak awal tentu akan menjadi sia-sia apabila kita gagal Closing alias gagal membuat murid TAHU, MAU, dan MAMPU. Ini adalah Behavior Stage dimana kita ingin melihat murid kita melakukan apa yang sudah ia pelajari. Kita ingin mereka merasakan sendiri pengalaman dan manfaat yang bisa ia dapatkan dari apa yang sudah dipelajari di kelas. Berikan fasilitas berupa bentuk kegiatan yang bisa membuat mereka melakukan Action. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak cara seperti misalnya meminta mereka untuk melakukan percobaan laboratorium, melakukan wawancara, membuat film pendek, mencipta poster, dan lain sebagainya. 

 https://scienceoxford.com/wp-content/uploads/2016/03/children-foam-experiment.jpg

Dengan fasilitas kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan juga dengan ketertarikan para murid, maka Action dalam keseluruhan proses pembelajaran pun menjadi menyenangkan dan tentunya BERDAMPAK. 

* * *

Bagaimana? Bisa juga 'kan konsep marketing menjadi salah satu metode belajar di kelas yang efektif dan menarik? ^.^

Bahkan, sebagian orang - termasuk saya, nggak berhenti sampai poin Action saja. Kadang saya menggunakan satu point tambahan yaitu S sehingga AIDA pun berubah menjadi AIDAS. Lalu, apa itu S? S disini adalah SATISFACTION. Satisfaction disini berarti kepuasan, bukan hanya berarti keberhasilan.


Satisfaction bisa di dapat dalam kondisi dimana murid merasa bahwa dirinya melakukan usaha yang terbaik dan kita sebagai seorang pendidik memberikan FEEDBACK atas Action yang mereka ambil. Memuji jika hasilnya baik dan MEMPERBAIKI jika hasilnya memang belum memuaskan. Dengan Satisfaction yang baik, murid-murid akan nggak sabar untuk menunggu pembelajaran-pembelajaran berikutnya.

Nah, saya menantang kamu untuk mencoba membawa dan menerapkan metode AIDA(S) dan membagikan pengalaman kamu di kolom KOMENTAR di bawah ini. Kamu juga bisa kontak saya via twitter dan Instagram, @aditriasmara. Anyway, saya juga pernah menuliskan materi tentang Desain Pembelajaran Aktif di Dalam Kelas. Bagi kamu yang penasaran apa saja yang saya bahas di dalamnya, kamu bisa klik DISINI


0 komentar:

Post a Comment

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com