Adi Triasmara

Adi Triasmara

Trainer Bahasa Inggris

Adi Triasmara kerap memberikan pelatihan bahasa Inggris untuk pelajar serta mahasiswa. BEM Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mercu Buana Jakarta dan FSI - FISIP Universitas Indonesia pernah memakai jasanya.

Trainer Public Speaking

Adi Triasmara juga merupakan trainer public speaking yang fokus dalam teknik desain slide presentasi yang memukau. Ia juga merupakan salah satu kontributor utama dalam portal pembelajaran public speaking - www.TeknikPublicSpeaking.com.

Penulis Buku Pengembangan Diri

Bersama dengan 8 anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia dan penulis buku best-seller "Studentpreneur Guidebook" - Arry Rahmawan, Adi Triasmara menuliskan sebuah buku pengembangan diri "Sekeping Cinta".

Anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia

Adi Triasmara merupakan anggota aktif dari komunitas trainer muda terbesar di Indonesia: LTMI (Lingkar Trainer Muda Indonesia). LTMI juga merupakan bagian dari CerdasMulia Institute - cerdasmulia.net.

Guru Bahasa Inggris Professional

Selain aktif menulis dan memberikan pelatihan bahasa Inggris dan public speaking, Adi Triasmara juga merupakan seorang guru bahasa Inggris professional di salah satu sekolah swasta di Bintaro, Tangerang Selatan.

Sunday, April 16, 2017

Buktikan Sendiri! 3 Langkah Ini Bisa Membantu Meningkatkan Kemampuan Pronunciation!

Belajar-Pronunciation

"Can you say that again, please?"

Tips Belajar Bahasa Inggris | Sebagian dari kita mungkin sudah memiliki kemampuan tata bahasa yang baik atau penguasaan vocabulary yang lebih dari cukup untuk melakukan percakapan sehari-hari. Tentu percakapan yang saya maksud disini adalah percakapan bahasa Inggris ya. Hehehe..

Meski demikian, kadang saat kita berbicara dengan orang lain, terlebih lagi kepada seorang native speaker, mereka masih mengalami kesulitan untuk menangkap apa yang ingin kita sampaikan. 

Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja kita berbicara dengan terlalu cepat, dengan volume suara yang terlalu rendah, atau dengan pengucapan (pronunciation) yang kurang jelas. Mudahnya, kalau memang kita berbicara terlalu cepat, ya kurangi saya kecepatan kita berbicara. Kemudian, jika memang kita berbicara dengan volume yang terlalu rendah, ya naikkan saya volume suara kita.

Monday, April 10, 2017

Idealkah Mengadopsi Model AIDA dalam Marketing sebagai Metode Mengajar yang Efektif?


Hi, sobat pembaca! Apa kabar? Semoga kamu dalam keadaan sehat dan bahagia ya! Aamiin... 

Anyway, tahu nggak sih? Setelah flashback dan dipikir-pikir lagi, sewaktu saya sekolah dulu, ternyata banyak hal yang mempengaruhi prestasi saya ketika belajar di sekolah. Hal-hal itu diantaranya adalah fasilitas sekolah, materi pembahasan di kelas, teman-teman satu kelas saya, dan pastinya para guru beserta metode belajar yang mereka gunakan di kelas. Iya apa iya? ^^

Nah, dalam tulisan ini saya akan fokus pada hal yang terakhir saya sebutkan tadi: Guru dan metode mengajarnya.

Mengapa saya hanya fokus pada hal tersebut? Apa hal yang lain nggak penting? 

Eits, nggak gitu dong pastinya ^^ Saya fokus pada guru dan metode mengajarnya karena selain saya saat ini berkarir sebagai seorang pendidik, saya juga yakin bahwa faktor guru adalah salah satu faktor esensial yang menentukan prestasi siswa. 

Bahkan, belakangan saya membaca sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Prof. John Hattie dari the University of Auckland yang mengatakan bahwa guru adalah faktor determinan tertinggi kedua (setelah faktor internal siswa), dengan angka 30%, terkait dengan prestasi atau siswa. 

Nah, tentu jika membahas secara keseluruhan tentang guru dan metode mengajarnya, tulisan ini akan sangat panjang a.k.a PUANJAAAANGGG BET! Hehehe.. 

Maka dari itu, saya akan fokus pada salah satu metode mengajar yang sudah saya terapkan setelah kurang lebih menjalani karir sebagai seorang pendidik selama lima tahun terakhir. Metode ini bernama AIDA

Apa itu AIDA? 

Well, mungkin sebagian dari kamu ada yang sudah tahu, namun ada juga yang belum. AIDA merupakan salah satu teori dasar yang dipakai dalam dunia pemasaran atau marketing untuk menjual suatu produk atau jasa. AIDA sendiri merupakan singkatan dari ATTENTION - INTEREST - DESIRE - ACTION. 


Jadi, teori ini menekankan bahwa untuk membuat seseorang membeli produk atau menggunakan jasa yang kita tawarkan, kita harus menarik perhatian mereka, membuat mereka tertarik, membangkitkan keinginannya, dan tentunya memutuskan untuk menggunakan produk atau jasa yang kita tawarkan. Teori ini saya pelajari dari Pak Hasnul Suhaimi, mantan Presiden Direktur XL Indonesia.

"Loh, kok konsep marketing dipakai untuk mengajar? Nggak cocok dong!"

Ijinkan saya menjelaskannya dengan lebih detil. Meski AIDA adalah metode yang lahir dari dunia marketing, namun saya percaya bahwa metode ini cocok diterapkan di dunia pendidikan. Seorang guru, dosen, bahkan seorang trainer pun bisa mengadaptasi metode ini dalam kelas-kelasnya. 

Saat kita mengajar, tentu kita memiliki tujuan yang ingin dicapai di akhir sesi pembelajaran. Biasanya, kita ingin murid, mahasiswa, atau trainee kita MAMPU melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Ingat ya, MAMPU. Bukan sekedar TAHU.



Bagi saya, proses mendidik bukan hanya proses transfer ilmu dari satu kepala ke banyak kepala. Lebih dari itu, proses mendidik adalah proses yang mampu mencerahkan pikiran, membangkitkan semangat, dan MENGGERAKKAN audiens untuk melakukan sesuatu. Singkatnya, sebagai seorang pendidik, saya akan membuat audiens (dalam hal ini siswa) saya agar TAHU, MAU, dan MAMPU. Nah, konsep AIDA inilah yang kerap menjadi "jembatan" bagi saya dalam meraih goal tersebut. 

Sebelum membahas lebih dalam lagi, saya ingin sedikit bercerita. 

* * *
Kemarin saat saya sedang bepergian, saya melewati sebuah restoran baru yang menarik perhatian saya dan juga banyak pengunjung. Restoran itu memutar musik dengan cukup keras dan menghadirkan "maskot" (boneka orang) yang berjoget di depan restoran dan siap menyapa dan berfoto dengan siapa saja yang ingin mampir ke restoran tersebut. Tak hanya itu, banner besar berwarna kuning terang bertuliskan BUY ONE GET ONE pun sangat jelas terpampang. 

Musik, maskot, dan banner besar itu cukup mencuri perhatian saya dan mampu menggiring saya untuk mendekat dan mencari tahu tentang menu yang ditawarkan. Setelah melihat menu dengan nama-nama yang unik dan tampilan gambar yang menarik, ditambah dengan sambutan hangat dari para pegawainya, saya pun memutuskan untuk menjajal makanan yang ada di restoran tersebut. Dan.. Walaaa! Maknyus juga ternyata! Hehehe..
* * *

Menurut saya, restoran ini sukses menerapkan metode AIDA dengan baik. Ia mampu mendapat perhatian saya (Attention), menghadirkan ketertarikan saya (Interest), memunculkan keinginan saya (Desire), dan akhirnya membuat saya membeli (Action). 

Sama halnya dengan proses pendidikan, kalau kita ingin membuat murid kita TAHU, MAU, dan MAMPU, kita juga harus mampu mendapat perhatian mereka, membuat mereka tertarik, memunculkan keinginan mereka untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya membuat mereka melakukan apa yang menjadi tujuan pembelajaran kita.

ATTENTION. Bayangkan jika restoran itu nggak memutar musik, menghadirkan maskot, dan memasang banner besar berwarna cerah. Mungkin nggak banyak orang yang tahu bahwa restoran itu baru buka dan menawarkan promo. Lebih parahnya lagi, mungkin ada juga beberapa orang yang bahkan nggak tahu kalau disitu ada restoran. Hehehe..

Sebagai seorang pendidik yang menghadapi murid-murid dengan latar belakang dan ketertarikan yang berbeda, mendapatkan Attention di awal pembelajaran. 

Setiap guru, dosen, atau trainer yang masuk ke dalam kelas, akan bersaing dengan penarik perhatian lain yang ada di lingkungan audiens. Misalnya, HP, film yang sedang hits, konser musik yang baru mereka kunjungi, buku yang sedang mereka baca, dan masih banyak hal lain yang bisa jadi lebih menarik daripada apa yang akan kita sampaikan. Untuk itu, kita harus mampu menarik perhatian mereka dengan cepat. 

https://www.teachermagazine.com.au/files/Raising_the_professional_status_of_teaching.jpg

Tentu banyak hal yang bisa dilakukan seperti misalnya membuka kelas dengan games-games sederhana pemecah suasana, dengan jokes, dengan sebuah cerita yang menginspirasi dan berhubungan dengan pembelajaran, bahkan dengan sebuah pantun. 

Dapatkan perhatian siswa sesegera mungkin, dengan cara yang POSITIF, untuk masuk ke tahapan metode selanjutnya. Yang saya maksud positif adalah dengan mencoba untuk nggak marah-marah, nggak bentak-bentak, dan lain sebagainya. Awali dengan kebahagiaan. Hehehe.. 

Anyway, kalau saat ini kamu Google dan menemukan bahwa ada versi yang mengatakan bahwa A dalam AIDA adalah AWARENESS, nggak perlu bingung dan khawatir. Intinya sama kok! ^^

INTEREST. Kembali ke masalah restoran, kebayang nggak kalau misalnya setelah saya mendapatkan perhatian restoran itu, tapi nggak ada sesuatu yang membuat saya tertarik setelahnya. Menunya biasa-biasa saja, harganya nggak spesial, ruangannya sempit, ya pasti saya nggak akan Action dong, saya nggak akan beli. 

Dalam kelas, jika perhatian nggak diubah menjadi ketertarikan, maka semua usaha yang kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian mereka akan sia-sia. Mereka akan kembali dengan "perhatian mereka masing-masing" jika ketertarikan dalam kelas nggak muncul. 

Cobalah untuk memunculkan ketertarikan dengan beragam cara yang menurut kamu paling efektif. 

Kamu bisa membawa alat peraga, menampilkan video, atau media pembelajaran lainnya. Intinya, menurut saya pribadi, siswa akan tertarik jika ia tahu dengan pasti tujuan ia belajar. Jawablah pertanyaan, "Mengapa murid, mahasiswa, atau trainee saya harus paham tentang materi yang saya ajarkan?" 

http://cdn.kingston.ac.uk/includes/img/cms/site-images/orig/kingston-university-de14fde-international-students---kingst.jpg

Usahakan untuk nggak menjawab pertanyaan itu dengan jawaban, "Ini tuntutan kurikulum." Jawablah dengan mengaitkan apa yang kita akan ajarkan dengan kehidupan NYATA para audiens. Kaitkan dengan manfaat NYATA yang bisa audiens rasakan kelak setelah mereka paham apa yang kita sampaikan.

DESIRE. Keinginan kuat saya muncul saat para pegawai restoran menyambut saya dengan baik, menjelaskan tentang menu-menu favorit yang jadi menu unggulan di restoran tersebut. Salah satu pegawai restoran juga menjelaskan tentang keunggulan yang dimiliki oleh resto ini seperti misalnya koneksi wifi dan photo booth menarik yang disediakan di lantai atas. 

Dalam pembelajaran, proses ini ditandai dengan keinginan kuat siswa untuk melakukan Action atau tindakan. Bagaimana memunculkan keinginan ini? 

Tentu banyak caranya seperti misalnya terus menggali rasa penasaran yang ada di dalam diri siswa sehingga mereka ingin mencoba dan menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang dibahas. Selain itu, guru juga bisa memberi contoh tentang kesuksesan-kesuksesan yang diperoleh oleh salah satu tokoh ternama yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sedang menjadi fokus pembelajaran. 

Intinya, Desire adalah Call to Action atau panggilan untuk bergerak, panggilan untuk melakukan sesuatu. 

http://indonesiaexpat.biz/wp-content/uploads/2015/06/Teaching-abroad.jpg

Kadang kamu juga bisa menjelaskan kepada para murid tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari jika pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari ini gagal dikuasai oleh mereka. 

ACTION. Ya, langkah terakhir adalah tindakan. Langkah terakhir adalah duduk manis, menyantap menu favorit, kemudian membayar pesanan saya. Hehehe..   

Apa yang kita bangun sejak awal tentu akan menjadi sia-sia apabila kita gagal Closing alias gagal membuat murid TAHU, MAU, dan MAMPU. Ini adalah Behavior Stage dimana kita ingin melihat murid kita melakukan apa yang sudah ia pelajari. Kita ingin mereka merasakan sendiri pengalaman dan manfaat yang bisa ia dapatkan dari apa yang sudah dipelajari di kelas. 

Berikan fasilitas berupa bentuk kegiatan yang bisa membuat mereka melakukan Action. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak cara seperti misalnya meminta mereka untuk melakukan percobaan laboratorium, melakukan wawancara, membuat film pendek, mencipta poster, dan lain sebagainya. 

 https://scienceoxford.com/wp-content/uploads/2016/03/children-foam-experiment.jpg

Dengan fasilitas kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan juga dengan ketertarikan para murid, maka Action dalam keseluruhan proses pembelajaran pun menjadi menyenangkan dan tentunya BERDAMPAK

* * *

Bagaimana? Bisa juga 'kan konsep marketing menjadi salah satu metode belajar di kelas yang efektif dan menarik? ^.^

Bahkan, sebagian orang - termasuk saya, nggak berhenti sampai poin Action saja. Kadang saya menggunakan satu point tambahan yaitu S sehingga AIDA pun berubah menjadi AIDAS. Lalu, apa itu S? S disini adalah SATISFACTION. Satisfaction disini berarti kepuasan, bukan hanya berarti keberhasilan.


Satisfaction bisa di dapat dalam kondisi dimana murid merasa bahwa dirinya melakukan usaha yang terbaik dan kita sebagai seorang pendidik memberikan FEEDBACK atas Action yang mereka ambil. Memuji jika hasilnya baik dan MEMPERBAIKI jika hasilnya memang belum memuaskan. Dengan Satisfaction yang baik, murid-murid akan nggak sabar untuk menunggu pembelajaran-pembelajaran berikutnya.

Nah, saya menantang kamu untuk mencoba membawa dan menerapkan metode AIDA(S) dan membagikan pengalaman kamu di kolom KOMENTAR di bawah ini. Kamu juga bisa kontak saya via twitter dan Instagram, @aditriasmara untuk diskusi lebih jauh ^^ 



Baca juga: 

Friday, April 7, 2017

OMG! Hasil Survey Ketakutan Public Speaking Ini Sungguh Mengejutkan!


Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah faktam tepatnya hasil survey, yang cukup menggelitik perasaan saya. Bukan hasil survey tentang elektabilitas calon gubernur Jakarta, tapi tentang kegiatan berbicara di depan publik atau bagi sebagian orang lebih dikenal dengan istilah Public Speaking. 

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Chapman University, di tahun 2016, ada sebanyak 25.9% warga Amerika yang memiliki ketakutan terhadap Public Speaking. Mungkin kamu bertanya-tanya di dalam hati, "Ah, angka segitu sih kecil. Cuma 25,9% aja kok. Apa yang spesial? Apa yang bikin perasaan menggelitik?"

Saya nggak akan bicara apakah angka itu besar ataupun kecil karena hal ini bersifat relatif. Ada sebagian orang yang menganggap ini dalah prosentase yang besar, ada pula yang menganggapnya kecil. Tapi, hati saya tergelitik akan satu hal: Angka prosentase ketakutan bicara di depan publik (Glossophobia) ternyata lebih tinggi dari angka beberapa hal yang mematikan. Ya, MEMATIKAN. 

Contohnya, hanya ada 22,2% orang di Amerika, pada tahun 2016, yang takut terhadap banjir bandang dan 21,8% orang yang takut akan badai musim dingin. Coba perhatikan. Public speaking bahkan lebih menakutkan bagi sebagian orang jika dibandingkan dengan banjir bandang dan badai yang jelas-jelas memiliki potensi kematian yang besar.   


Lebih uniknya lagi, jumlah orang yang takut jika dirinya ada dalam Sakaratul Maut alias sekarat hanya ada 19%. Ditambah lagi, hanya ada 17,5% orang yang takut jika dirinya dibunuh oleh orang yang dia kenal. Sekarat dan dibunuh. Kurang menakutkan apa lagi coba? Kok bisa-bisanya sebagian orang lebih takut bicara di depan publik daripada mati? 

Hal ini menarik sekali bagi saya. Bahkan, Jerry Seinfeld, seorang pelawak tunggal kenamaan asal Amerika pernah mengatakan hal ini dalam salah satu show nya:

"Berdasarkan beberapa penelitian, ketakutan terbesar pertama bagi banyak orang adalah Public Speaking. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah kematian. Apa ini terdengar wajar? Ini artinya, bagi sebagian orang, lebih baik kita ada di dalam peti mati daripada harus memberikan pidato kematian dalam sebuah pemakaman."

(Jerry Seinfeld - Kutipan ini saya terjemahkan sendiri ke dalam bahasa Indonesia)
Tentu kita tahu bahwa Glossophobia bisa mendera siapa saja, setiap orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. 

Ketakutan ini bisa dialami oleh pebisnis yang harus melakukan presentasi, pencari kerja yang akan melakukan interview, bahkan bukan nggak mungkin juga dialami oleh para mahasiswa yang mendadak religius, terus berdoa, agar nggak ditunjuk oleh guru atau dosen untuk menjawab pertanyaan. Hehehe.. 

Kembali ke survey yang saya sebut di atas, fakta bahwa sebagian orang lebih takut untuk berbicara di depan publik daripada harus terkena bencana alam atau bahkan dibunuh tentu sangat kontroversial. 

Survey lanjutan menyatakan bahwa mereka takut jika hal-hal yang nggak diinginkan tiba-tiba terjadi saat mereka bicara di depan publik. Mereka takut kalau penonton sorakin mereka, terus lemparin mereka pakai sayuran mentah, demo minta mereka segera turun, teriakin dengan kata-kata yang nggak pantas ... Eh, maaf, terlalu semangat jadi lebay ya. Hehehe..

So, bagaimana? Setujukah kamu bahwa berbicara di depan publik itu lebih menakutkan daripada kematian? SHARE YOUR THOUGHT! ^^

Monday, April 3, 2017

Milikilah Mental Ini Saat Belajar Bahasa Inggris


Tips Belajar Bahasa Inggris | Bagi sebagian orang di Indonesia, bahasa Inggris masih menjadi sosok yang mengerikan. Sosok yang membuat mereka mengurungkan niat untuk melamar pekerjaan di perusahaan asing. Sosok yang mungkin membuat mereka menggugurkan keinginan untuk studi di luar negeri atau pertukaran pelajar karena penguasaan bahasa yang minim. Duh, nggak banget deh ya.

Di dunia dengan tingkat persaingan super ketat ini memang sangat disayangkan jika ketidakmampuan kita dalam bahasa Inggris menjadi penghambat karir atau studi kita.

Nah, saat berbicara tentang proses belajar bahasa Inggris, banyak orang yang terfokus pada vocabulary, grammar, skor TOEFL, kemampuan speaking, dan lain sebagainya. Nggak salah tentunya. Namun, ada satu hal lain yang juga harus menjadi perhatian setiap pembelajar bahasa Inggris. Apa itu? Ya, SIKAP atau mentalitas belajar.

Dalam artikel ini, saya akan bagikan 5 sikap belajar yang harus kamu miliki saat kamu sedang belajar bahasa Inggris. Here we go!

1. Sadarilah Bahwa Kesalahan adalah Hal yang Wajar

https://sg-dae.kxcdn.com/blog/wp-content/uploads/2015/07/idea-success-failure.jpg

Banyak orang yang terhambat proses belajarnya karena mereka takut membuat kesalahan saat berbahasa Inggris. Baik itu kesalahan yang dibuat secara lisan maupun tertulis. Jika kamu termasuk orang yang takut membuat kesalahan saat belajar bahasa Inggris, sadarilah bahwa kesalahan yang muncul saat proses belajar sangatlah wajar.

Bersahabatlah dengan kesalahan. Mengapa? Karena justru saat kita tahu bahwa kita membuat salah, maka secara otomatis kita juga tahu mana yang benar. Dengan mengetahui mana yang benar, maka kita akan memperbaiki diri sehingga bahasa Inggris kita akan menjadi semakin baik dari hari ke hari.

2. Milikilah Rasa Percaya Diri

 http://i.huffpost.com/gen/1503722/images/o-CONFIDENCE-facebook.jpg

Apapun pekerjaan kamu, di kota manapun kamu tinggal dan dilahirkan, kendaraan apapun yang kamu miliki, jenjang pendidikan apapun yang sudah kamu tuntaskan, percayalah bahwa Tuhan telah menciptakan kamu dalam bentuk dan potensi yang sebaik-baiknya. Percayalah dengan segala potensi yang Tuhan berikan ke dalam dirimu, termasuk potensi untuk mempelajari hal-hal baru seperti bahasa Inggris.

Dengan memiliki perasaan percaya diri yang baik, proses belajar bahasa Inggrismu akan menjadi lebih menyenangkan. Kamu nggak akan mudah menyerah saat menghadapi tantangan belajar yang kamu temui. Kamu juga akan merasa yakin bahwa cepat atau lambat kamu akan bisa menguasai bahasa Inggris.

3. Bersabarlah Menjalani Proses

 https://www.arttoself.com/wp-content/uploads/2015/02/enjoy-the-process-of-transformation.jpg

One thing to keep in mind: Nggak ada sesuatu yang instan. Ya, yakini bahwa semua hal yang ada di dunia ini membutuhkan waktu, apalagi sebuah proses pembelajaran. Kalau kamu berharap untuk bisa bahasa Inggris dalam waktu semalam dengan cara membaca buku-buku pembelajaran bahasa Inggris, maka kamu sedang bermimpi. Menikmati proses belajar menjadi faktor yang penting untuk tetap bersemangat dalam belajar bahasa Inggris.

Good things take time, right? Ada tahapan proses yang mau nggak mau memang harus kita lalui. Ada proses belajar, proses uji pemahaman, proses latihan, proses evaluasi, dan lain sebagainya. Sekali lagi, suka nggak suka atau mau nggak mau, proses ini harus dilalui. So, daripada harus membenci prosesnya, let's enjoy the ride!

4. Jagalah Pikiran Positif

http://bloximages.newyork1.vip.townnews.com/omaha.com/content/tncms/assets/v3/editorial/7/b7/7b7496b6-d213-5354-9080-c486fedc9919/58648b2417b28.image.jpg?resize=1200%2C779

Kita adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan pikiran dan emosi yang ada di dalam diri kita. Pikiran akan menentukan sikap dan langkah kita dalam belajar. Namun, permasalahan yang muncul adalah biasanya ada saja pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif yang menggerogoti semangat belajar bahasa Inggris kita.

Misalnya, katakanlah kamu melakukan Tes TOEFL dan nilai yang kamu dapatkan jelek atau nggak sesuai dengan yang kamu harapkan. Jika kamu berpikiran negatif, maka kamu mungkin akan berpikir "Ah, aku ini memang bodoh. Aku memang nggak pandai bahasa Inggris." Pikiran itu membuat kamu berhenti belajar. 

Sebaliknya, jika kamu berpikiran positif, mungkin kamu akan berpikir, "Aku harus cari dimana kelemahanku dan memperbaikinya. Aku yakin di tes berikutnya nilaiku akan membaik." Pikiran ini akan membuat kamu semakin semangat belajar.

So, tetaplah berpikiran positif dalam keadaan dan situasi apapun saat belajar bahasa Inggris.

5. Janganlah Malu untuk Bertanya

https://cdn.daysoftheyear.com/wp-content/images/international-ask-a-question-day-e1452599846452.jpg

"Malu bertanya sesat di jalan" adalah peribahasa penuh makna yang sangat tepat kita gunakan dalam proses belajar. Mengapa demikian? Ya, karena dalam proses belajar bahasa Inggris, saya yakin bahwa kita akan menemui masalah. Misalnya ada kata yang nggak kita tahu artinya, ada tata bahasa yang masih kita ragu konteks penggunaannya, dan lain sebagainya.

Jika kita malu bertanya pada orang yang lebih tahu, tentu kita akan berkutat pada permasalahan itu dalam waktu yang lama. Kebanyakan orang malu saat harus bertanya karena takut jika mereka dianggap bodoh. Padahal, saya yakin dengan bertanya pada orang yang tepat, kita bisa semakin mengembangkan kemampuan bahasa Inggris kita, loh. Milikilah mentor yang tepat. Saya yakin banyak orang-orang di sekitarmu yang siap membantu menjawab pertanyaanmu.

Melalui program #BAHASIN - "Balas di Hari Senin", saya juga selalu meluangkan diri saya untuk menjawab pertanyaan seputar dunia pembelajaran bahasa Inggris. So, buat kamu yang masih menyimpan pertanyaan dalam dirimu, feel free to contact me on twitter or Instagram @aditriasmara ^^

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com