Adi Triasmara

Adi Triasmara

Friday, January 27, 2017

Boleh Ikut Bicara Soal Pilkada, Tapi Waspadalah Pada Hal yang Satu Ini!


"Mulailah dari sebuah KEGELISAHAN". Ya, inilah saran yang saya sering dapatkan dari para mentor atau guru saya serta pelajaran yang saya peroleh dari idola-idola saya tentang berkarya, termasuk tentunya dalam hal menulis. 

Nah, saat sedang menulis artikel ini, saya juga memiliki sebuah keresahan yang ingin saya tuangkan dan bagikan kepada siapapun yang membacanya, termasuk kamu tentunya. Keresahan ini bukan datang dari proses belajar mengajar bahasa Inggris, bukan juga tentang dunia pengembangan diri ataupun public speaking. Keresahan ini muncul dari dunia POLITIK. 

Ya, saya pastikan bahwa kamu nggak salah baca. Saat ini saya memiliki keresahan yang bersumber dari dunia politik. 

Saya dulunya bukan orang yang menyukai politik, bahkan cenderung NGGAK PEDULI sama yang namanya politik. For me, it's like nothing. Kalau bicara tentang dunia entrepreneurship, ayok deh. Bicara tentang leadership, ayok. Bicara tentang pengembangan diri? Ayok banget. Tapi, kalau politik, hmm.. I didn't think I wanna talk about it because I didn't even care.

Tapi seiring berjalannya waktu, terutama setelah banyak membaca, saya mendapatkan pencerahan bahwa ketidakpedulian saya terhadap politik bisa jadi memiliki arti bahwa saya pun nggak peduli dengan hidup saya. Why? 

http://www.publishingmedia.org.uk/wp-content/uploads/2014/11/Read-news-from-different-platforms.jpg

Well, terdengar ekstrim memang, namun seperti itulah adanya. Hampir setiap kebijakan-kebijakan politik akan membawa pengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Kebijakan dalam hal transportasi, biaya bahan pokok, keamanan, kebebasan, penanggulangan masalah sosial, dan lain sebagainya. Semuanya berkaitan langsung dengan kehidupan kita sebagai warga negara atau sebagai warga yang tinggal di satu daerah tertentu. 

Ini dia awal mula munculnya rasa PEDULI saya terhadap politik.

Nah, kembali ke topik pembahasan utama yaitu tentang keresahan yang sedang saya alami saat ini. Keresahan ini muncul menjelang proses pelaksanaan PILKADA serentak dilakukan di Indonesia. Pilkada DKI Jakarta menjadi perhatian saya yang utama. Hal ini terjadi karena pemberitaan media yang cukup kuat tentang Pilkada Jakarta dan juga karena meski saya saat ini tinggal di Bintaro (Tangsel), namun saya kerap wira-wiri di Jakarta. Alhasil, kebijakan politik yang ada di Jakarta pun akan berimbas pada kehidupan saya nantinya. 

Seperti yang sama-sama kita tahu pastinya, bahwa ada 3 pasangan calon gubernur yang maju dalam Pilkada Jakarta: 1) Agus-Sylvi, 2) Ahok-Djarot, dan 3) Anies-Sandi. Saya mungkin nggak terlalu meresahkan persaingan ketiga paslon tersebut untuk menduduki kursi gubernur di Jakarta. Namun, saya meresahkan sikap (beberapa) masyarakat Jakarta dna orang-orang yang ada di sekitar saya yang juga membicarakan masalah Pilkada. Ijinkan saya menjelaskannya dengan lebih detil.

http://pks-jakarta.or.id/wp-content/uploads/2016/10/Pleno-Terbuka-No-Urut-Paslon-Pilkada-DKI-2017-_25102016_asky-23.jpg

Hal yang saya ingin saya sampaikan terkait dengan keresahan pribadi saya adalah bahwa acara debat kandidat ataupun talkshow yang menghadirkan salah satu paslon sering menimbulkan perbincangan-perbincangan negatif setelahnya, baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Yang saya amati, perbincangan negatif itu pun biasanya muncul dari orang-orang yang sudah memiliki pilihannya sendiri.

Padahal, menurut saya, acara-acara tersebut lebih tepat diperuntukkan bagi para UNDECIDED VOTERS: Mereka yang memiliki hak suara namun belum menentukan pilihannya. Acara tersebut, sekali lagi menurut pandangan saya pribadi, bukan ditujukan secara khusus bagi orang-orang yang sudah YAKIN 100% akan pilihannya dalam Pilkada mendatang. Kenapa saya memiliki pandangan seperti ini?

Begini, saya coba jelaskan.

Seseorang yang sudah memiliki pilihan, biasanya (nggak semua tentunya), akan mengamini apa yang dikatakan oleh orang yang akan ia pilih tersebut. Keterikatan emosional antara calon pemilih dan sosok yang akan dipilih, biasanya memunculkan efek subjektifitas yang besar. Alhasil, ketika ada orang lain yang berseberangan pandangan dengan sosok pilihannya, ia nggak akan terlalu mendengarkan atau mengindahkan apa yang disampaikan oleh orang tersebut. Kalaupun mendengarkan, saya kira hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. 

Untuk lebih jelasnya, saya akan menuliskannya dalam bentuk contoh.

Katakanlah ada seseorang bernama Bejo yang sangat mengidolai Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan sudah menentukan pilihannya pada Pak Ahok pada Pilkada mendatang. Kecintaan dan pilihannya kepada Pak Ahok, bisa jadi, akan membuat Bejo nggak mau mendengarkan apapun yang disampaikan oleh Pak Anies dan Pak Agus (AHY). Kenapa? Karena Pak Anies dan Pak Agus ada dalam posisi yang berseberangan dengan Pak Ahok. Ditambah lagi, Bejo sudah menyukai sosok Pak Ahok. Begitu pula karena Bejo sudah YAKIN, sudah MENJATUHKAN PILIHANNYA pada Pak Ahok, apapun yang terjadi. 

Itu hanya ilustrasi contoh saja ya. Contoh di atas pun berlaku sebaliknya jika misalnya ada orang yang  sudah menentukan pilihannya pada Pak Anies atau Pak Agus. 

Kalau berhenti sampai poin itu saja sih nggak masalah, menurut saya pribadi. Yang meresahkan saya adalah para DECIDED VOTERS ini, orang-orang yang sudah menentukan pilihannya, menggunakan acara debat kandidat atau talkshow dalam sebuah stasiun TV sebagai bahan untuk mencari-cari kekurangan kandidat lain yang bukan menjadi pilihannya. Ia mengekspos hal negatif apapun yang bisa diekspos, mencari celah, dan menjadikannya bahan pembicaraan, (mungkin) hanya untuk membuat kandidat pilihannya terlihat lebih kuat. 

Itu hak setiap orang, betul. Dan memang negative campaign, yang bertujuan mengangkat hal-hal negative lawan yang berdasarkan pada fakta (bukan black campaign yang berdasar pada fitnah), cukup berasalan jika memang ditujukan atau DINIATKAN untuk MENGUNGKAP KEBENARAN, bukan sekedar untuk menyebarkan aib alias keburukan seseorang.

Tapi, melalui tulisan ini, saya berusaha mengingatkan diri saya sendiri dan mengajak siapapun yang membaca tulisan ini untuk berhati-hati agar kita semua WASPADA agar kita semua nggak terjebak dengan ghibah atau gunjing. *Mendadak religius, ambil peci, gelar sajadah* Wadawwww :)))

http://i.huffpost.com/gen/1418453/images/o-OFFICE-GOSSIP-facebook.jpg

Well, mungkin sampai di titik ini ada yang berpendapat, "Ah, sok suci nih. Gaya banget sih ngomongin ghibah. Emangnya situ ulama, bos?" It's okay, nggak masalah, saya sudah bersahabat dengan pertentangan. 

Tapi menurut saya, ghibah adalah suatu yang sia-sia. Kita menjadikan kekurangan atau keburukan orang lain sebagai bahan perbincangan. Coba pikirkan lagi, keuntungan apa yang kita dapatkan dari hal itu? Kepuasan batin? Bisa jadi. Tapi pertanyaan saya: "Apakah nggak ada cara lain, yang tentu bersifat positif, yang bisa kita gunakan untuk menghadirkan kepuasan batin? Dengan berbagi, dengan berkarya, dengan terus belajar misalnya, atau apapun itu."

Membicarakan kekurangan orang lain juga sebenarnya menimbulkan tanda tanya yang besar, "Apakah kita yakin bahwa diri kita jauh lebih baik dari orang yang kita bicarakan itu?" Well, kalau saya siiih, kalau saya loh ya..hehehe.. Kalau saya merasa jauh lebih baik dari Pak AHY, Pak Ahok, atau Pak Anies Baswedan dalam hal menangani masalah yang ada di Jakarta untuk menjadikannya menjadi kota yang lebih maju, mungkin saya yang akan maju jadi calon gubernur bersaing dengan ketiganya. Karena saya yakin, saya lebih baik dan saya pasti menang.

Yang coba saya tekankan sih, jika memang kamu sudah menentukan pilihanmu, cobalah fokus pada paslon pilihanmu itu sendiri. Angkat hal-hal yang memang menjadi kekuatannya. Sebarkan hal-hal positif yang memang dimilikinya. Kalau mau nonton debat kandidat atau talkshow, ya silahkan saja, asal saran saya jangan jadikan acara itu sebagai jembatan untuk menyoroti kekurangan paslon lain dan menjadikannya bahan perbincangan sehari-hari dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, atau siapapun itu.

Jangan sampai ajang Pilkada ini menimbulkan sebuah kebiasaan baru dalam diri kita yang bersifat buruk: ghibah. 

Jangan menjadikan ghibah itu sebuah kebiasaan, sebuah budaya yang kita turunkan pada generasi yang akan datang, kepada anak cucu kita, kepada para calon pemimpin bangsa Indonesia nantinya. 

http://i.huffpost.com/gen/3146850/images/o-TAPED-MOUTH-facebook.jpg

Saya juga dulu senang membicarakan orang lain. Powerful sekali rasanya jika kita bisa menemukan kelemahan orang lain dan menjadikannya bahan obrolan atau bahkan bahan cemoohan. Puas bet pokoknya! Tapi sudah cukup lama juga saya mencoba meninggalkan kebiasaan itu dan merubahnya menjadi kebiasaan yang baik. Saya MEMILIH untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk mendegarkan yang baik, membaca yang baik, melihat yang baik, dan berbicara yang baik. Kenapa demikian? 

Ya, karena setelah belajar dari para guru dan mentor, saya beranggapan bahwa diri saya, tubuh saya ini, bekerja layaknya sebuah laptop. 

Jika data-data yang saya masukkan adalah data-data yang negatif, maka apa yang akan saya tampilkan, adalah hal-hal yang negatif pula. Sebaliknya, jika saya terbiasa memasukkan hal-hal positif ke dalam diri saya, maka harapannya apa yang saya pikirkan, apa yang saya tulis, apa yang saya katakan pun akan menjadi hal-hal yang positif, yang mendatangkan MANFAAT bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk banyak orang. Alhasil, harapannya saya akan menjadi pribadi yang postif pula.

Saya memang bukan tipe orang yang vocal alias banyak bicara, maka dari itu saya menuangkan kegelisahan saya dalam bentuk tulisan. Dan puas sekali rasanya hari ini saya membagikan apa yang saya pikirkan ke dalam tulisan yang sekarang sedang kamu baca. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan ini, kawan. Jika memang ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini, feel free to SHARE this article karena saya yakin, menyebarkan kebermanfaatan akan mendatangkan kebaikan bagi diri kita sendiri dan juga bagi orang lain. 

Mari menjadi baik dengan mendengarkan dan membaca yang baik, serta menulis dan membicarakan hal yang baik pula. Salam! ^.^

4 comments:

  1. Keren! Keep on writing ya bro..ternyata dari Sasing Sadhar juga ya?salam kenal dari saya angkatan '96

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, mba Niken. Wah, really? Iya, saya Sadhar juga, tapi Pendidikan bahasa Inggris, Mba. Salam kenal, terima kasih sudah berkunjung :)

      Delete
  2. Replies
    1. Doi (sepertinya) nggak punya keresahan ini bro. I have one. Hahaha ^^

      Delete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com