Adi Triasmara

Adi Triasmara

Tuesday, August 16, 2016

Wonderful Life Lesson from "Charming C"


I don’t know where to start, but once I told Ibu Rin Sutartini - who becomes my partner as an instructor in Pelatihan Instruktur Nasional Guru Pembelajar Bahasa Inggris Reg. Jawa Timur – simple thing: “To be one of the trainees is already a joy for me, bu.”

Adalah suatu hal yang cukup mengejutkan bagi saya ketika mendapat informasi dari kepala sekolah bahwa nama saya ada di dalam daftar peserta Pelatihan Instruktur Nasional Guru Pembelajar Bahasa Inggris Reg. Jakarta pada tanggal 15 hingga 24 Juli 2016 lalu di Fave Hotel PGC Cililitan. Terlepas dari rasa terkejut yang sama miliki kala itu, saya mengikuti keseluruhan proses pelatihan dengan sepenuh hati dan terus mencoba melakukan yang terbaik dalam setiap kegiatan yang diagendakan.
 
Dalam pelatihan itu, saya belajar dari kedua Nara Sumber (NS) yang sangat luar biasa – ibu Rin Sutartini dan ibu Nining Suryaningsih - yang memberikan pencerahan, pengarahan, dan penjelasan yang mudah dipahami dengan kemasan kelas yang menyenangkan.

Kejutan kembali berlanjut. Saat upacara penutupan, disebutkan lulusan-lulusan terbaik dari masing-masing kelas, dimana nama saya disebut menjadi lulusan terbaik dari kelas B dengan predikat SANGAT BAIK. Hadiah Tuhan untuk saya tak berhenti disitu saat bu Rin, yang menjadi trainer saya kala itu, menghubungi saya untuk menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah satu Nara Sumber dalam pelatihan yang serupa yang akan dilakukan di Surabaya. Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan ajakan beliau.

Singkat cerita, tibalah saya di Surabaya – untuk pertama kalinya dalam hidup saya – untuk menjalani semua proses rangkaian kegiatan pelatihan dimana saya dan Ibu Rin bertugas di kelas C yang kemudian para pesertanya menyebut kelas mereka CHARMING C.  Senang iya, deg-deg an pun iya. Hehehe..

Tak terasa hari berlalu begitu cepat sehingga saat saya menulis, 16 Agustus 2016 pagi, sepuluh hari durasi pelatihan pun hampir terlalui. Menjadi Nara Sumber bukan berartis aya yang paling hebat, bukan berarti saya yang paling tahu, bukan berarti pula saya yang mengajarkan banyak hal. Justru sebaliknya, begitu banyak pembelajaran yang saya terima, begitu banyak ilmu yang saya serap, begitu banyak inspirasi yang saya dapatkan di kelas CHARMING C ini. Berikut adalah beberapa pembelajaran itu:

Pertama, saya belajar BAGAIMANA MENJADI PEMBELAJAR SEJATI. Di kelas Charming C, ada 34 peserta yang rentang usianya bermacam-macam, dari yang muda, hingga yang bahkan mungkin sudah mengajar belasan atau puluhan tahun saat saya baru lahir. Sebagai catatan, saya lahir di tahun 1992. Tentu beliau-beliau ini bukan lagi masuk dalam rentang usia “muda” yang dijabarkan secara umum di masyarakat. Meski demikian, mereka menunjukkan semangat tak kenal kenal dalam belajar. Mereka masih mau belajar, berusaha sebaik mungkin, dan terus berkembang untuk memaksimalkan segenap potensi yang ada di dalam diri mereka. Hal ini memberi saya inspirasi bahwasannya setiap insan manusia, apapun pekerjaan yang ia dilakukan, tanpa kenal usia, tanpa kenal suku, agama, ras, ia harus tetap menjadi insan pembelajar yang sejati.


Kedua, saya belajar BAGAIMANA BERSIKAP SALING MENGHARGAI. Betul bahwasannya saya adalah yang paling “bocah” di dalam ruangan kelas. Betul bahwasannya saya adalah yang paling muda di kelas. Meski demikian, saya merasakan apresiasi, penghargaan yang mendalam dari peserta. Meski sekali lagi, jika dilihat dari segi usia dan pengalaman mengajar, saya yakin para peserta diklat di kelas saya lebih senior, namun mereka tetap menunjukkan penghargaan bagi saya pribadi dan juga bagi peserta lainnya melalui tutur kata, suara, dan bahasa tubuh yang mereka gunakan. Saya jadi ingat sebuah kalimat sederhana yang juga inspiratif bagi saya: “Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi dengar dan pahamilah apa yang ia sampaikan.”


Ketiga, saya belajar BAGAIMANA KERJA KERAS DAN PENGORBANAN MENJADIKAN DIRI KITA PRIBADI YANG LEBIH BAIK. Saat menerima tugas, terutama tugas-tugas mandiri yang harus dilakukan di luar kelas yang biasanya akan secara otomatis meminta peserta untuk memotong jam istirahatnya, beberapa dari peserta terlihat sedikit gusar. Wajar sekali tentunya..hehehe.. Tapi, mereka mengesampingkan kegusaran tersebut, mengalihkan kegalauan mereka dan menggantinya dengan kerja keras yang mereka lakukan. Mereka rela memangkas waktu istirahatnya demi memperdalam pengetahuan, meningkatkan skill, dan menyelesaikan tugas secara bersama-sama. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa peserta juga mengorbankan waktunya demi keluarga dan siswa yang mereka tinggalkan untuk sementara waktu pastinya. Namun pengorbanan tersebut, kerja keras tersebut membuahkan hasil yang membahagiakan karena pada dasarnya setiap peserta menjadi lebih tahu dan menjadi lebih mampu.


Akan tiba saatnya nanti kita semua berpisah, kembali ke tempatnya masing-masing, membawa sebuah tantangan, membawa sebuah amanah. Jangan jadikan tantangan ini, jangan jadikan amanah ini, menjadi sebuah beban. Jadikanlah tantangan ini sebagai pelecut, sebagai cambuk untuk terus menyemangati diri dalam upgrade pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik lagi sebagai seorang guru dan seorang manusia. Terima kasih CHARMING C atas pembelajaran yang telah engkau berikan padaku, terima kasih guru-guruku sampai nanti bertemu lagi. “Don’t try to be the best, try TO DO your BEST!” Sayonara!

4 comments:

  1. Maju Terus Pendidikan Indonesia, Tetap Semangat dan Sukses Selalu Mas Dimas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Pak Riamin. Sehat dan sukses selalu juga untuk bapak! ^.^

      Delete
  2. luar biasa mas dim. keep shining! :)

    ReplyDelete
  3. Thanks, Mba Eva! Keep shining, too! ^.^

    ReplyDelete

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com