Adi Triasmara

Adi Triasmara

Trainer Bahasa Inggris

Adi Triasmara kerap memberikan pelatihan bahasa Inggris untuk pelajar serta mahasiswa. BEM Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mercu Buana Jakarta dan FSI - FISIP Universitas Indonesia pernah memakai jasanya.

Trainer Public Speaking

Adi Triasmara juga merupakan trainer public speaking yang fokus dalam teknik desain slide presentasi yang memukau. Ia juga merupakan salah satu kontributor utama dalam portal pembelajaran public speaking - www.TeknikPublicSpeaking.com.

Penulis Buku Pengembangan Diri

Bersama dengan 8 anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia dan penulis buku best-seller "Studentpreneur Guidebook" - Arry Rahmawan, Adi Triasmara menuliskan sebuah buku pengembangan diri "Sekeping Cinta".

Anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia

Adi Triasmara merupakan anggota aktif dari komunitas trainer muda terbesar di Indonesia: LTMI (Lingkar Trainer Muda Indonesia). LTMI juga merupakan bagian dari CerdasMulia Institute - cerdasmulia.net.

Guru Bahasa Inggris Professional

Selain aktif menulis dan memberikan pelatihan bahasa Inggris dan public speaking, Adi Triasmara juga merupakan seorang guru bahasa Inggris professional di salah satu sekolah swasta di Bintaro, Tangerang Selatan.

Friday, February 23, 2018

6 Sikap Tepat untuk Menghadapi Kritikan

6-sikap-menghadapi-kritikan


Motivator Muda Indonesia | Setiap orang memiliki sikapnya masing-masing dalam melihat dan menghadapi kritikanSebagian orang melihat kritik sebagai sebuah media evaluasi dan pengembangan diri. Namun, bagi sebagian orang lainnya, kritikan adalah hal yang pahit untuk diterima. Mereka membencinya dan mencoba sebisa mungkin untuk menjauh darinya.

Saya sempat bertanya-tanya di dalam diri saya sendiri:

"Kenapa ya orang terluka karena kritik? Jadi baper, jadi ngambek, jadi nggak enak hati, dan lain sebagainya. Lalu, sikap seperti apa yang sebaiknya kita miliki saat menghadapi kritik?"

Setelah saya coba analisa lebih dalam dan mencari jawaban dari berbagai sumber, saya menemukan jawabannya. Aha! Di artikel ini, izinkan saya berbagi pandangan tentang hal ini ya!

Satu dari banyak hal yang menjadi penyebab kenapa seseorang terluka karena kritik adalah karena ia nggak FOKUS pada esensi atau pesan utama dari kritik itu sendiri. Lalu, apa yang menjadi fokusnya? Jawabannya adalah delivery atau bagaimana kritik itu disampaikan oleh orang lain. 

Banyak kritik yang secara esensi sangatlah membangun. Namun sayangnya, kadang memang kritik tersebut disampaikan dengan cara yang kurang pas dengan apa yang kita inginkan. Dengan nada dan gestur yang nggak bersahabat, misalnya. Nah, ketika kita fokus pada bagaimana sebuah kritik disampaikan, bisa jadi kita akan mudah merasa tersinggung atau terluka hatinya. 

Menurut saya pribadi, hal ini sangat disayangkan. Kenapa? Karena setidaknya ada DUA KERUGIAN yang akan kita dapatkan.

PERTAMA, bisa jadi kita akan kehilangan FEEDBACK yang sangat bermanfaat. Karena kita fokus pada bagaimana kritik itu disampaikan, kita kehilangan pesan inti yang pada dasarnya bisa sangat membangun.

KEDUA, bisa jadi kita akan kehilangan seseorang yang berharga. Let me explain...

Saat kita menerima kritik dan fokus pada bagaimana kritik itu disampaikan lalu kita marah atau tersinggung, respon pertama yang biasanya terlihat adalah kita mencoba mengeluarkan DEFENSE. Kita mencoba mencari pembenaran. Kita mencoba bertahan, bahkan menyerang balik. Kita mulai mencari alasan yang sekiranya bisa membuat diri kita "menang". 

Apa yang akan terjadi kemudian? Biasanya akan terjadi perdebatan karena kedua pihak sama-sama ingin didengar dan dianggap benar. Apa efeknya? Perdebatan itu akan memicu perpecahan kalau nggak disikapi dengan bijak. Orang yang memberi kita kritik akan enggan memberi masukan lagi kepada kita karena bisa jadi ia kemudian akan malas untuk berdebat. 

Kita bisa kehilangan seseorang yang bisa memberikan feedback atau masukan-masukan yang membangun untuk kita. 

Nggak mau dong dua kerugian ini menimpamu? :)

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? 

Menurut Justin Bariso (penulis EQ Applied), saat menghadapi kritikan, ada 6 hal yang dilakukan oleh orang-orang dengan Emotional Quotient (kecerdasan emosional) yang sangat baik. Ke-6 hal tersebut adalah: 

1.) TIDAK Mengecilkan Masalah
Saat menerima kritik, kadang kita berpikir: "Ih, ngapain sih ngasih kritik tentang hal itu? Itu kan nggak penting!" Bisa jadi, sesuatu bagi kita tidaklah penting. Tapi bagi orang yang memberi kritik, bisa jadi itu adalah hal yang sederhana namun sangat esensial untuk perkembangan diri kita. Ingat, kadang hal-hal yang sederhana justru bisa menjadi pembeda antara orang yang sukses dan gagal. 

2.) TIDAK Menjelaskan 
Jika seseorang yang memberikan kritik nggak mengajukan pertanyaan pada kita, bisa jadi artinya ia nggak membutuhkan penjelasan apapun terhadap apa yang kita lakukan. Ia hanya fokus memberikan masukan untuk perbaikan diri kita. Kalau kita mencoba menjelaskan, padahal nggak diberi pertanyaan, bisa jadi kita akan mulai memunculkan sistem pertahanan diri akan sebuah kritik.

3.) TIDAK Beralasan
Jika misalnya seseorang memberikan kritik bahwa tulisanmu buruk, nggak perlu mencari banyak alasan. Misalnya seperti mengatakan bahwa kamu terburu-buru saat menulis, kamu nggak punya banyak referensi, dan lainnya. Tanyakan saja MENGAPA ia mengatakan bahwa tulisan kita buruk dan dengarkan dengan seksama poin-poin yang akan ia sampaikan.

4.) TIDAK Melakukan Pembenaran
Poin ini erat kaitannya dengan Poin 3 di atas. Tentu memang kadang ada hal-hal yang nggak bisa kita kontrol yang mempengaruhi hasil yang kita raih dalam melakukan sesuatu. Namun, ketahuilah bahwa saat kita mekakukan pembenaran, kita akan menutup gerbang masuknya pesan-pesan yang membangun saat menghadapi kritikan. 

5.) TIDAK Mengalihkan Poin Utama
Kunci utama untuk memperbaiki kelemahan yang kita miliki adalah MENYADARI bahwa kelemahan itu memang benar adanya. Kadang kita merasa risih saat orang lain menyoroti kelemahan yang kita miliki, meski niatnya baik. Sehingga, kita berusaha "lari" dan mencari poin bahasan lain sesegera mungkin. Sadarilah bahwa dengan fokus pada poin utama, kita akan lebih mudah untuk memperbaiki diri kita.  

6.) TIDAK Menyalahkan Orang Lain 
Blaming. Sebuah hal yang sangat membahayakan. Dengan menyalahkan orang lain, kita akan melepaskan tanggung jawab yang ada di dalam diri kita. Nah, dengan melepas tanggung jawab, maka kita juga telah melepas kekuatan yang ada di dalam diri kita. Untuk memahami hal ini lebih lanjut, kamu bisa membacanya disini: Suka Menyalahkan Orang Lain? Pahami Resiko Buruk Ini!

* * *

Kamu bisa baca penjelasan lengkap tentang 6 sikap ini di artikel yang Justin tulis di inc.com. Buat kamu yang masih kurang jelas dan membutuhkan penjelasan lebih, tinggalkan pertanyaan kamu di kolom komentar yaa. Kamu juga bisa DM saya via Instagram @aditriasmara

Nah, bagaimana denganmu? 

Apa yang selama ini menjadi FOKUS-mu saat orang lain memberi kritik? Lalu, bagaimana sikapmu saat menghadapi kritikan? :)

Baca juga: 
Cara Memberikan Kritik yang Berdampak ala "Radical Candor"

Silahkan SHARE artikel ini jika bermanfaat! 

Wednesday, January 31, 2018

Tahukah Kamu? Inilah 13 Frasa bahasa Inggris yang Berkaitan dengan Dating dan Relationship

Frasa-Bahasa-Inggris-tentang-Dating-Relationship


Hallo, sahabat pembaca aditriasmara.com! Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga makin DAHSYAT ya! Aamiin.. Anyway, di artikel ini, saya akan membagikan 13 Frasa bahasa Inggris yang berkaitan dengan Dating dan Relationship. 

Are you in a relationship? Or ... Are you jomblo? :p

Anyway, tanpa perlu berlama-lama lagi, inilah ke-13 frasa yang saya maksud:

1. Fancy somebody. 
Arti: Menyukai seseorang
Contoh: "It's clear that James fancies Helen."

2. Chat somebody up
Arti: Menghubungi seseorang via pesan chat
Contoh: "You know what? He chats me up everyday!"

3. Fall in love (with somebody)
Arti: Jatuh cinta pada seseorang
Contoh: "I think I'm falling in love with her."

4. Ask somebody out 
Arti: Mengajak seseorang keluar (dating)
Contoh: "Why are you still here? I thought James asks you out this evening." 

5. Go out (with somebody)
Arti: Pergi bersama
Contoh: "Is he going out with Sarah? I can't believe this!"


6. Get on well (with somebody)
Arti: Akrab, memiliki hubungan yang baik dan dekat.
Contoh: "After few months, Diana finally gets on well with David."

7. Fall out (with somebody)
Arti: Bertengkar, beradu argumen.
Contoh: "I don't think they are good to be together. They just fall out almost everyday!"


8. Split up (with somebody)
Arti: Berpisah, putus
Contoh: "Have you heard that Jill splits up with Michael?"

9. Make up (with somebody)
Arti: Berdamai setelah bertengkar
Contoh: "I finally make up with my girlfriend, mate. I apologized to her last night."

10. Get engaged (to somebody)
Arti: Bertunangan
Contoh: "He proposed me last night! OMG! I still can't believe that I finally got engaged to him!"

11. Get married (to somebody)
Arti: Menikah
Contoh: "This is a very special weekend, everyone! My son is getting married!" 

12. Get divorced
Arti: Bercerai
Contoh: "Isn't that sad to know that Julia and Robert got divorced?"

13. Get back together (with somebody)
Arti: Rujuk, menjalin hubungan kembali
Contoh: "Do you have a plan to get back together with Maria?"

* * * 

So, itulah 13 Frasa bahasa Inggris yang berkaitan dengan Dating dan Relationship. Semoga bermanfaat ya! ^^

Anyway, kalau kamu mau dapetin update informasi dan tips belajar bahasa Inggris yang efektif, mudah, dan menyenangkan, yuk JOIN channel Telegram SIMPLE & EASY ENGLISH. 

Klik aja link nya: 

Silahkan SHARE artikel ini jika bermanfaat! ^^

Saturday, January 20, 2018

1 Kunci dari "PENA RASA" ini Bisa Membantumu Jadi Penulis Sukses


WELCOME TO MY 100th BLOG POST! *Ngetik sambil potong tumpeng*

Motivator Muda Indonesia | Yup, ini adalah tulisan saya ke-100 di blog ini. Thanks buat kamu pembaca setia blog aditriasmara.com. Semoga blog ini bisa terus bawa manfaat dan ngasih pengetahuan plus inspirasi baru buat kamu ya! Aamiin.. 

Anyway, saya sadar banget kalau sebelum saya membuat tulisan ini, saya sudah menulis 99 artikel. Sebenarnya, banyak inspirasi yang mau saya tuangkan di artikel-artikel baru. Tapi, karena saya mau tulisan ke-100 saya di blog ini adalah tulisan tentang satu hal yang ISTIMEWA, yang special, jadi saya sengaja menunda untuk membuat post baru di blog ini. 

So, saya menunggu sampai saya menemukan sesuatu yang benar-benar special untuk ditulis. Saya terus menunggu dan menunggu sampai akhirnya hari ini datang, Minggu - 20 Januari 2018. I finally find something SPECIAL that deserves a special place in my personal blog. 

Apa itu? 

PENA RASA, sebuah kelas menulis kreatif oleh Sri Izzati. Waaa... Acaranya seru banget! Di kelas ini, Izzati berbagi begitu banyak hal menarik tentang dunia kepenulisan. Hal-hal itu sering bikin saya manggut-manggut di kelas sambil bilang, "Ooo..ternyata gitu yaa.." 

Nggak hanya dapat ilmu dan point of view yang baru seputar dunia menulis, saya dan teman-teman peserta lain juga dapat kesempatan buat langsung praktik. Ditambah lagi, kami bisa langsung dapet feedback dari Izzati. GOKS! 

Buat kamu yang hobi nulis atau mau jadi penulis, I highly recommend you to join her class. Follow aja Instagram @srizzati dan @penarasa.id. 




Anyway, di artikel ini, saya akan bahas SATU dari begiiiitu banyak key takeaways yang bisa diambil dari kelas Pena Rasa. Satu hal yang saya pilih untuk bahas di artikel ini adalah tentang KUNCI sukses menjadi penulis. 

Kamu bisa nebak nggak nih? Kira-kira apa ya kuncinya?

"Kunci Inggris, mas!" / "Apaan sih. Hahaha.. Bukan dong..."
"Kunci Motor, mas!" / "Lah, apa urusannya?"
"Kunci Anggora, mas!" / "Itu kucing, sob -.-"

Ternyata, kunci sukses menjadi penulis sukses adalah... Konsistensi. 

CONSISTENCY IS THE KEY

I absolutely agree with this. Saya percaya bahwa banyak orang yang mau jadi penulis tapi mereka nggak nulis secara konsisten. Mereka nulis kalau lagi mood aja. Mereka nulis kalau "lagi ada waktu" aja. Mereka nulis kalau pas ide muncul aja. 

Why do I believe in this? Karena saya pun dulu juga seperti itu. 

Dulu saya pengen banget rasanya jadi penulis, tapi nggak bisa (lebih tepatnya nggak mau) buat konsisten menulis. Selalu bikin excuse yang jadi pembenaran buat nggak nulis. Ya itu tadi, mulai dari alasan nggak mood, lagi nggak ada ide, waktunya sibuk banget, dan lain sebagainya. 

Sampai akhirnya saya memiliki sebuah turning point moment. Sebuah momen dimana saya berikrar pada diri sendiri bahwa saya harus konsisten untuk menulis. Dan hasilnya... Pretty awesome! 

Dari konsistensi menulis itu akhirnya saya bisa menerbitkan sebuah buku yang didistribusikan secara nasional di toko-toko buku besar di Indonesia, berjudul SIMPLE & EASY ENGLISH, pada 31 Juli 2017. Alhamdulillah... It's a dream come true!

Nggak hanya itu, again, karena KONSISTENSI saya dalam nge-blog, tahun lalu saya dihubungi oleh salah satu penerbit besar di Solo yang menawarkan saya menulis buku untuk mereka. Bukunya bakal terbit tahun ini, 2018. 

Alhamdulillah, rezeki anak shaleh ^^

Hal yang sama juga dilakuin oleh Izzati. I know her in person and I'm telling you, she talks the talk and walks the walk

Artinya, doi adalah a type of person yang emang melakukan apa yang ia katakan dan mengatakan apa yang ia lakukan. Kalau ngomongin konsistensi, coba cek blog dan feed Instagram nya. She's being consistent in producing pieces of writing. 

I mean, VERY GOOD pieces of writing.

Bahkan bagi Izzati, dia masih membagi aspek konsistensi itu ke dalam tiga bagian yang berbeda: Konsisten BERGERAK, BERTUMBUH, dan BERKEMBANG. 

Buat saya pribadi, menulis itu nggak jauh beda sama olahraga. Lebih banyak latihan, ya lebih jago. 

Sekarang saya tanya deh. Kalau ada dua atlet karate yang bakal bertanding. Atlet A hanya berlatih jika ia akan menghadapi sebuah pertandingan. Sedangkan, Atlet B selalu konsisten berlatih, ada ataupun nggak ada pertandingan. 

Kira-kira, siapa yang menang? Secara logika, tentu atlet B lah yang akan jadi pemenangnya. Kenapa? Karena ototnya sudah terlatih dengan lebih baik secara konsisten. 

Sama halnya dengan menulis. Konsisten dalam menulis juga melatih "otot" menulis kita. Semakin lama, semakin terbiasa. Semakin terbiasa, semakin mudah berkembang. Semakin berkembang, tulisan kita yang tentunya semakin baik.  



Keep the key with you, fellas. CONSISTENCY. Keep it close. 

So, now the question is...

"Kalau 'Menjadi Penulis' adalah salah satu bagian dari resolusimu di tahun 2018, siapkah kamu mulai KONSISTEN dalam menulis?"


* * *


Anyway, thanks for reading my 100th blog post! 

Baca juga: 
1. Ingin Jadi Penulis? Simak 5 Nasihat Tere Liye Berikut Ini!
2. Yuk Simak Perjuangan Penulis dengan Bayaran Tertinggi No. 1 Versi Forbes.com

Kalau kamu ada pertanyaan atau mau berbagi pengalaman kamu seputar dunia menulis, langsung aja tuliskan di kolom KOMENTAR yaa. Silahkan SHARE artikel ini jika bermanfaat ^^

Sunday, January 14, 2018

Menurut Merry Riana, Inilah Dua Hal yang Membuatmu Gagal Mencapai Resolusi!


Motivator Muda Indonesia | Nggak terasa bulan Januari 2018 sudah memasuki minggu ketiga. Gimana nih? Masih terasa 'kan semangat tahun barunya? Masih dong ya pastinya! 

Kalau ngomongin tahun baru, erat banget kaitannya sama kata RESOLUSI atau harapan dan keinginan baru yang mau dicapai. Iya apa iya? ^^

Nah, ketika tahun yang baru datang, biasanya kita juga punya semangat dan keyakinan baru untuk mencapai banyak hal. Ini seolah jadi tradisi. Bahkan, nggak cuma jadi tradisi orang Indonesia, loh. Hampir semua orang di seluruh penjuru dunia pun memiliki tradisi yang sama dalam menuliskan RESOLUSI nya di tahun baru. 

Menuliskan RESOLUSI bagi saya pribadi adalah hal yang penting. Kenapa? Karena, resolusi bisa menjadi sebuah pengingat sekaligus penjaga komitmen saya dalam melakukan hal-hal baru yang baik. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama. Tapi, permasalahannya, kadang resolusi itu menguap begitu saja sehingga target-target yang sudah kita buat tidak tercapai. Duh, sayang bet, sob!

Di akhir tahun 2017 lalu, saya pernah mengadakan sebuah polling di Instagram saya @aditriasmara dengan pertanyaan sederhana: "Dari semua resolusi yang kamu buat di awal tahun, berapa persen kah yang saat ini tercapai?" dengan pilihan jawaban (A) Di atas 50% dan (B) Di bawah 50%. 

Tebak hasilnya!

Ternyata, lebih dari 70% orang yang mengikuti polling mengaku bahwa resolusi yang mereka capai KURANG DARI 50%! Kamu gimana? Apa kamu juga punya pencapaian yang sama? Kalau saya sih Alhadulillah 80% tercapai ^^

Anyway, Sabtu (13 Januari 2018) lalu, saya berkesempatan untuk belajar dengan Miss Merry Riana - Asia's No. 1 female motivational speaker dalam acara MASTER CLASS di Merry Riana Learning Center. 




Dalam event itu, Miss Merry berbagi tentang bagaimana merencanakan impian dan mencapainya dalam kurun waktu satu tahun. Pembahasan yang sungguh menarik! Saya akan membagikannya di tulisan saya berikutnya ya. Di tulisan ini saya akan membagikan hal lain yang juga disampaikan Miss Merry di event itu: Dua Hal yang Membuatmu Gagal Mencapai Resolusi

Hmm... Kira-kira apa ya? Ada yang bisa nebak? ^^

PERTAMA, penyebab gagalnya seseorang dalam mencapai resolusi adalah karena ia hanya IKUT-IKUTAN. Saat teman-temannya membuat resolusi dan mengunggahnya ke media sosial, ia pun nggak mau ketinggalan. Ia membuat resolusi yang menurut dia keren, lalu ia juga upload ke akun Instagramnya. Ia cuma mau dapat banyak LIKE dan COMMENT dari orang lain. 

Orang yang membuat resolusi karena sekedar ikut-ikutan jelas tidak memiliki komitmen yang kuat dalam mencapainya. Bisa jadi apa yang ia tuliskan adalah hal yang nggak penting bagi dirinya. Dan... 
"Saat suatu hal itu nggak penting bagi kita, maka kita akan terus mencari ALASAN. Sebaliknya, kalau sesuatu itu penting bagi kita, maka kita akan terus mencari JALAN." (Merry Riana)
So, cek lagi ya! Apakah resolusimu di awal tahun ini memang penting bagi dirimu atau hanya sekedar ikut-ikutan biar dibilang hits kece badai cetar membahana mempesona? :D

KEDUA, kenapa seseorang gagal dalam mencapai resolusinya, adalah karena ia TIDAK FOKUS. Ada terlalu banyak hal yang ingin ia capai dan ia ingin melakukannya dalam satu waktu. Misal, resolusinya adalah ingin turun berat badan, ingin mendapatkan income yang lebih besar, ingin travelling ke luar negeri, ingin menjadi menjadi selebgram, ingin rajin baca buku, ingin menghilangkan kebiasaan merokok, ingin ini, itu, ini, itu... Banyak bet! 

Memangnya nggak boleh? 

Well, sah-sah aja kok. Tapi... terlalu banyak hal yang ingin dicapai bisa membuat kita kehilangan fokus. Jika fokus kita hilang, maka tenaga, waktu, dan pikiran yang kita keluarkan menjadi tidak efektif. Dan saat semua itu menjadi tidak efektif, hasilnya tentu saja tidak optimal. Gagal deh resolusinya! :(
"You can have everything in life, but NOT at the same time. Just one moment at a time." (Merry Riana)
Coba deh cek lagi daftar resolusimu. Dari daftar itu, saran saya, tentukan satu sampai dua hal besar saja yang memang menjadi prioritasmu tahun ini. Then, FOCUS!

So, itulah Dua Hal yang Membuatmu Gagal Mencapai Resolusi menurut Merry Riana. Kamu boleh loh share pengalaman dan pendapat kamu juga di kolom KOMENTAR. Feel free!

Semoga dengan membaca tulisan ini, pikiran kamu bisa jadi lebih terbuka dan kamu makin semangat dalam menyusun strategi meraih mimpimu ya! Aamiin... Nah, setelah susun strategi, langsung deh TAKE ACTION! Karena mimpi tanpa aksi akan tetap menjadi mimpi ;) 

Oiya, buat kamu yang tahun ini mau jadi penulis atau pembicara publik yang profesional, ada kesempatan emas buat langsung take action nih!

Saya dan tim Generasi Berdaya Training Center, akan membuka Public Class dengan tema "How to Turn Your Communication Skills into Practice". Kelasnya FREE, tapi kuota kelas sangat terbatas. So, daftar langsung aja ke nomor yang ada di poster ya. Siapa cepat, dia dapat. I'll see you there! ^^



Thursday, January 4, 2018

Ikuti Trik Jitu Ini untuk Menemukan Bakatmu!


"Hard work beats talents when talents do not work hard." 

Motivator Muda Indonesia | 31 Desember 2017. Yup! Itulah hari Minggu, sekaligus hari terakhir di tahun 2017. Mungkin sebagian dari kamu memanfaatkan hari itu untuk berkumpul dengan keluarga, sahabat, atau saudara-saudaramu dan menyiapkan acara perayaan malam pergantian tahun. Pasti seru ya! Saya sendiri, Alhamdulillah, justru mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar kota, tepatnya ke Purwokerto. 

Saat itu saya mendapatkan amanah untuk mewakili tim Generasi Berdaya Training Center, sebuah lembaga pelatihan profesional yang saya inisiasi, untuk datang ke Panti Asuhan Dharmo Yuwono. Saya diminta berbagi ke adik-adik panti asuhan tentang dunia kewirausahaan. Jadilah saya mengisi kelas "Entrepreneurship for Youth."

Awalnya saya mengira bahwa peserta kelas hanyalah anak-anak Panti Asuhan Dharmo Yuwono saja. Tapi ternyata, pimpinan panti mengundang anak-anak dari panti asuhan lain yang berada di karisidenan Banyumas. Akhirnya, berkumpullah sekitar 60an anak dengan semangat belajar yang tinggi di panti tersebut. 

Kelas pun berjalan lancar dan sangat menyenangkan ^^



Setelah kelas usai dan ditutup dengan sesi foto bersama, ada sekitar 11 anak yang mendatangi saya. Ke-11 anak ini adalah anak-anak dari salah satu panti asuhan di Ajibarang. Ada beberapa hal yang mereka tanyakan. Satu diantara beberapa pertanyaan mereka yang menarik adalah: 

"Mas, gimana ya caranya nemuin bakat? Rasanya kok saya nggak punya bakat yang besar..."

Mmm.. Pertanyaan yang menarik buat untuk dijawab! Kenapa? Karena saya yakin, nggak cuma satu atau dua orang di hidup ini yang punya pertanyaan seperti ini. Bisa jadi kamu pun saat ini memiliki pertanyaan yang sama. Nah, saya akan share jawaban saya atas pertanyaan itu di artikel ini. 




Kurang lebih, inilah jawaban saya. 

Pertama, sadarilah bahwa setiap orang lahir dengan bakat dan potensinya masing-masing. Setiap orang. Saya dan kamu. Titik. Kamu boleh aja mikir kalau kamu nggak punya bakat atau talent apa-apa. Tapi sesungguhnya, kamu hanya BELUM MENEMUKANNYA. 

"Nah, kalau saya belum bisa nemuin talent saya. Gimana dong cara nemuinnya?"

Ada banyak banget hal yang bisa kamu coba. Tapi saya hanya akan share 3 diantaranya. Kalau kamu mau nyoba 3 cara ini dengan maksimal, InshaaAllah bakal ketemu deh talent-mu :)

Pertama: CARI TAHU KEGIATAN APA YANG KAMU SUKA. Apa nih kira-kira? Olahraga, menulis, fotografi, desain, atau apa? Ada beragam alasan kenapa kita menyukai satu aktivitas tertentu. Salah satu alasannya adalah karena kita BISA melakukan hal itu. 

Kalau kamu suka berenang, ya bisa jadi kesukaanmu itu berangkat dari kemampuanmu untuk berenang. Kamu suka masak, bisa jadi kamu memang mampu untuk membuat masakan yang yummy bin enak bin lezat. Meski SUKA dan BISA memang dua hal yang berbeda, tapi keduanya bisa saling mempengaruhi. 

Kalau kamu bisa melakukan sesuatu, bisa jadi disitulah letak bakat atau talent-mu. So, apa nih kegiatan yang kamu SUKA? ^^

Kedua: TANYA ORANG-ORANG DISEKITARMU. Permasalahan yang kadang muncul adalah bukannya kita tidak punya talent, melainkan kita TIDAK SADAR akan talent yang kita miliki. Kita menganggap apa yang kita lakukan atau kerjakan bukanlah sebuah hal yang istimewa. Padahal, bisa jadi itulah talent kita!

Bagaimana agar muncul kesadaran akan talenta yang kita punya? Kita bisa tanya orang lain. Tanya pada keluarga, sahabat, rekan kerja, atau orang-orang yang memang dekat dengan kalian. Biasanya, mereka bisa dengan mudah melihat kelebihan yang ada dalam diri kita. Misal, sahabatmu selalu memberikan pujian pada setiap cerita pendek yang kamu buat. Nah, bisa jadi bakatmu adalah menulis!

Ingat, tanyakan pada orang-orang yang tepat ya! Tanyakan pada mereka yang benar-benar mengenalmu dengan baik. Mulai cari orang-orang itu, yuk!

Ketiga: BERANILAH UNTUK MENJADI BEDA. Sangat mudah melihat seseorang yang berbakat di bidang musik, olahraga, kuliner, teknologi, atau bidang-bidang umum lainnya. Bisa jadi kita merasa tidak mempunyai bakat karena kita menjadikan bidang-bidang tersebut sebagai referensi utama. Padahal, bakat kita ada di luar bidang-bidang yang umum itu. 

Misalnya, mungkin kamu tidak berbakat di bidang olahraga atau musik, tapi kamu adalah orang yang bisa dengan mudah membuat orang lain tertawa. Setiap hal yang kamu utarakan bisa menjadi lelucon segar yang memecah suasana dan mendatangkan kebahagiaan. Nah, siapa tau memang bakatmu adalah di bidang entertainment atau komedi?

Jadilah peka terhadap hal-hal yang bisa kamu lakukan dengan baik meskipun hal itu terkesan berbeda dengan orang lain. It's okay, dude. Everyone is unique!

* * * 

Itulah jawaban saya untuk pertanyaan tentang gimana sih caranya menemukan bakat di dalam diri kita. Semoga membantu ya! Eh, tapi ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Satu hal yang harus kamu ingat. 

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah kutipan: "Hard work beats talent when talents do not work hard." Ingatlah bahwa sebesar apapun bakat yang kamu punya, kalau kamu tidak mengoptimalkannya dengan baik, maka bakatmu itu tidak akan berarti apa-apa. Sedangkan, meski bakatmu tidak istimewa, namun jika kamu bekerja dengan giat dan kamu memiliki kegigihan, maka kamu bisa mengalahkan orang-orang dengan talenta super. 

Mau ngobrol lebih lanjut? Follow aja Instagram saya di @aditriasmara atau tinggalkan pertanyaan di kolom KOMENTAR ya. Saya tunggu! ^^



Monday, November 20, 2017

Cara Memberikan Kritik yang Berdampak ala "Radical Candor"


Motivator Muda Indonesia | Beberapa waktu yang lalu, saya dapat pertanyaan dari bukan-adik-kandung saya, Aisha Arista. Kurang lebih pertanyaannya gini: "Oke nggak sih, kalo kita mengkritik pemerintah lewat art?"

Kalau menurut kamu gimana? Kalau kamu yang ditanya oleh Arista, jawaban kamu apa? 

Waktu itu saya menjawab: "Ya bagus-bagus aja. Mau mengkritik dengan media apapun, menurut saya sih nggak masalah. Nah, lebih bagusnya lagi, kalau kita mengkritisi, BUKAN hanya mengkritik. Jadi, kita nggak cuma menyoroti masalahnya, tapi juga menawarkan SOLUSINYA." 

Gimana jawaban saya? Udah bijak kayak Mario Sungguh belum? Hehehe ^^

Monday, November 13, 2017

Keuntungan ini Bisa Kamu Memiliki Kalau Kamu Punya Partner yang Progressive



Motivator Muda Indonesia | 'MULAI MELAKUKAN SESUATU' dan 'MENERUSKAN DENGAN KONSISTEN' adalah dua hal yang berbeda, meski keduanya memiliki keterkaitan. 

MOTIVASI biasanya bikin seseorang mau untuk memulai sesuatu. Misal, Daffa bercita-cita menjadi seorang pelari maraton. Motivasinya itu bikin dia mau buat mulai latihan lari. Lalu ada Dini yang pengen banget punya butik. Keinginannya itu bikin dia mau untuk mulai mendesain baju-bajunya sendiri, membuatnya, dan memperlihatkan hasilnya pada orang lain. 

Saturday, November 11, 2017

3 Alasan Penting inilah yang Membuatmu Belajar Public Speaking

alasan-belajar-public-speaking

"Now that you can improve your value by 50% just by learning communication skills - public speaking." (Warren Buffet)

Motivator Muda Indonesia | Itulah sepenggal kalimat yang diungkapkan oleh Warren Buffet, seorang pengusaha dan investor kenamaan asal Amerika Serikat. 

Kutipan tersebut cukup unik karena pada dasarnya, ia baru masuk ke dunia public speaking setelah ia merampungkan proses belajarnya di kampus. Saat kuliah, ia terus menghindari kelas-kelas yang mengharuskan mahasiswanya untuk presentasi atau melakukan kegiatan public speaking lainnya. Dia seseorang yang sangat takut dengan 'panggung'! 

Thursday, November 9, 2017

Inilah Kenapa Indonesia Butuh Generasi yang Berdaya



"If you can't make Indonesia BETTER, don't make it worse!" ("Kalau kamu nggak bisa bikin Indonesia jadi lebih baik, jangan membuatnya menjadi lebih buruk.")

Ini adalah sebuah kutipan dari salah satu dosen saya semasa kuliah dulu. Kalimat ini menancap dalam di benak dan pikiran saya. Kenapa? Let me explain...

Kadang saya cukup gelisah lihat situasi dimana anak-anak muda Indonesia merasa pesimis dan skeptis sama masa depan bangsa ini. Yang bilang Indonesia nggak akan maju lah, Indonesia isinya orang-orang korupsi lah, pemerintah Indonesia nggak ada yang beres lah, dan masih banyak yang lainnya.

Alhasil, they don't wanna do things for this country. Mereka menyerahkan semuanya ke pemerintah. Kalau ada yang nggak beres, tinggal nyalahin pemerintah, ngomel di sosmed, atau bilang, "Indonesia gini amat sih. Coba tuh lihat, Jepang, Amerika, Finlandia, Jerman,..." :)

Faktanya, anak muda memiliki kekuatan dan potensi yang luar biasa besar buat memajukan Indonesia, loh. Tapi mungkin karena selama ini berita-berita yang ditayangkan di TV atau media lainnya lebih banyak mengekspos kabar negatif tentang Indonesia, maka pesimisme akan masa depan bangsa mulai mencuat. 

Survei GNFI (Good News From Indonesia) bahkan mengungkapkan bahwa ada 8 dari 10 pemuda di Indonesia yang pesimis pada masa depan Sang Ibu Pertiwi. 

Padahal banyak juga hal-hal positif tentang Indonesia. Misalnya, sejauh ini, dalam periode 2017-2019, Indonesia ada di urutan ke-5 dari daftar negara kontributor terbesar pada pertumbuhan ekonomi global. Banyak juga orang-orang Indonesia, lebih tepatnya PEMUDA, yang karyanya di akui dunia.

Saya percaya bahwa negeri ini butuh para "penggerak". Tentunya, anak-anak muda dengan antusiasme dan potensinya bisa menjadi motor penggerak yang sangat kuat.

Nah, untuk menjadi motor penggerak yang kuat, dibutuhkan juga mental dan karakter yang kuat untuk ...

menjadi pemuda TANGGUH yang nggak gampang galau.
menjadi pemuda PERCAYA DIRI yang nggak takut dicaci. 
menjadi pemuda TAHAN BANTING yang nggak gampang nyerah.
menjadi pemuda INOVATIF yang selalu mencari solusi. 
menjadi pemuda PRODUKTIF yang selalu berusaha berkarya.   

... dan masih banyak yang lainnya. 

I really want to see this kind of generation. Generasi Indonesia dimana para pemudanya nggak takut untuk bermimpi besar. Generasi Indonesia dimana para pemudanya selalu mau berusaha melakukan yang terbaik. Generasi dimana para pemudanya berani menunjukkan karyanya, berkontribusi untuk tanah air Indonesia, bahkan dunia. 

Keinginan inilah yang akhirnya membuat saya menginisiasi "GENERASI BERDAYA", sebuah lembaga training dan pengembangan diri yang fokus pada pengembangan soft-skill untuk para pemuda Indonesia. Dengan slogan "Memantapkan Cita . Mewujudkan Daya . Menghasilkan Karya", GENERASI BERDAYA membawahi 3 institusi dengan bidang yang berbeda-beda. Ketiga institusi itu adalah: 

1. TIME TO SPEAK - A Public Speaking Class for Youth
2. TIME TO BE A LEADER - A Leadership Class for Youth
3. TIME TO WRITE - A Writing Class for Youth




Orang mungkin akan berkomentar, "Ah, sok-sokan lu!" Well... Bagi saya, itu adalah hak mereka untuk berpendapat. Saya nggak bisa melarang orang lain untuk berpandangan sama dengan saya. Satu hal yang jelas: Saya memilih untuk menjadi bagian dalam proses perjuangan memajukan Indonesia. 

Negeri ini nggak merdeka dengan proses yang mudah. Butuh perjuangan besar, pengorbanan dahsyat dari para pahlawan. Bukan hal yang berlebihan rasanya kalau kita terus bersemangat memajukan negeri ini. 

Jika kamu merasa bahwa selama ini Indonesia sedang mengarah ke tujuan yang "nggak banget" karena adanya praktik korupsi dimana-mana, kriminalitas, dan hal-hal negatif lainnya, sadarilah satu hal: Indonesia adalah negara yang besar. Tentu butuh proses dan pastinya waktu untuk mengubah arah menuju jalan ideal yang kita harapkan. 

Proses dan waktu yang Indonesia tempuh bergantung pada banyak hal, salah satunya adalah jumlah orang yang mau ambil bagian, turun tangan, dan bersama-sama berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik. Indonesia butuh pemuda-pemuda hebat yang terus berjuang, melangkah bersama-sama & saling menguatkan. So, let's make Indonesia BETTER. Mari menjadi generasi yang... BERDAYA :) 


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com