Adi Triasmara

Adi Triasmara

Trainer Bahasa Inggris

Adi Triasmara kerap memberikan pelatihan bahasa Inggris untuk pelajar serta mahasiswa. BEM Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Mercu Buana Jakarta dan FSI - FISIP Universitas Indonesia pernah memakai jasanya.

Trainer Public Speaking

Adi Triasmara juga merupakan trainer public speaking yang fokus dalam teknik desain slide presentasi yang memukau. Ia juga merupakan salah satu kontributor utama dalam portal pembelajaran public speaking - www.TeknikPublicSpeaking.com.

Penulis Buku Pengembangan Diri

Bersama dengan 8 anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia dan penulis buku best-seller "Studentpreneur Guidebook" - Arry Rahmawan, Adi Triasmara menuliskan sebuah buku pengembangan diri "Sekeping Cinta".

Anggota Lingkar Trainer Muda Indonesia

Adi Triasmara merupakan anggota aktif dari komunitas trainer muda terbesar di Indonesia: LTMI (Lingkar Trainer Muda Indonesia). LTMI juga merupakan bagian dari CerdasMulia Institute - cerdasmulia.net.

Guru Bahasa Inggris Professional

Selain aktif menulis dan memberikan pelatihan bahasa Inggris dan public speaking, Adi Triasmara juga merupakan seorang guru bahasa Inggris professional di salah satu sekolah swasta di Bintaro, Tangerang Selatan.

Thursday, August 17, 2017

Sebuah Catatan Kemerdekaan


Lama nggak cerita nih...

Tapi sebelum cerita, saya mau tanya dulu deh...

*) Setuju nggak kalau setiap individu itu pada dasarnya UNIK alias beda antara yang satu dengan yang lainnya?
*) Setuju nggak kalau setiap individu, dengan keunikannya, memiliki KELEBIHAN dan KEKURANGAN-nya masing-masing?
*) Setuju nggak kalau setiap individu, gimanapun kondisi fisiknya, apapun latar belakang kedaerahan dan bahasanya, siapapun keluarganya, memiliki HAK yang sama untuk menggapai IMPIAN-nya?

Mudah-mudahan setuju ya!
Kalau setuju, silahkan manggut-manggut... Hehehe..

Mmm.. Okay. Saya mulai nih curhatnya.

Jadi gini... Saya itu tumbuh berkembang sebagai seorang yang "pendiam", setidaknya itulah yang banyak orang "label"-kan pada saya. Saya nggak menyalahkan hal itu. Memang pada dasarnya, saya adalah orang yang terlalu banyak bicara. So, label itu nggak sepenuhnya salah kok. Dan saya nggak protes akan hal itu ^^

Tapi kadang, kalau ingat-ingat masa lalu, bahkan juga kadang sampai sekarang, banyak orang yang kadang kok rasa-rasanya suka memandang sebelah mata orang-orang "pendiam".

Seorang pendiam yang selalu digambarkan sebagai sosok yang "pemalu"...
Seorang pendiam yang selalu dekat dengan pandangan bahwa ia "nggak friendly" dan "sombong"...
Seorang pendiam yang selalu dianggap nggak cakap berkomunikasi alias "kaku"...
Dan masih banyak lagi...

Kok jadi kesannya negatif semua ya? Kebayang dong gimana rasanya... Hehehe..

Bahkan, nggak jarang juga, ada orang yang sebel sama saya hanya karena saya pendiam. Padahal, kenal juga enggak.. Kenal enggak, sebel iya. Lah, salah gue apa sob? Cape deh! -.-

Untungnya, saya tumbuh berkembang sebagai orang yang memiliki tingkat ke-cuek-an level dewa! Alias cuek banget alias nggak peka banget.

Ada baik dan nggak baiknya sih jadi orang super cuek. Hal baiknya tuh saya nggak peduli dan nggak baper sama apa yang orang pikir dan bilang tentang saya, terutama judgement negatif. Hal nggak baiknya, pacar sering ngomel gara-gara saya kurang peka! Hahaha.. #Duh

Dulu, saya sempat merasa, "Kok gini banget ya rasanya jadi orang yang pendiam?" Dulu pula, saya sempat berusaha setengah mati untuk "menjadi orang lain" hanya untuk mendapatkan banyak teman. Untung, nggak mati beneran! Kenapa? Karena saya MENYESAL!

Ya, saya nyesel fokus sama kelemahan yang saya punya. Saya nyesel berusaha mati-matian cuma buat jadi orang lain. Padahal, Allah dah menciptakan kita dengan segala potensi yang ada di dalam diri kita. #MendadakReligius #LaluGelarSajadah

Saya belajar deh tuh dikit-dikit tentang dunia psikologi kepribadian manusia, termasuk belajar tentang konsep STIFIn (Sensing-Thinking-Intuiting-Feeling-Insting) dimana akhirnya ketemu deh konsep "SIAPA SAYA".

Dalam konsep STIFIn, saya termasuk orang yang punya kecerdasan berpikir "Thinking" yang letaknya di otak kiri bagian atas (neokorteks kiri). Saya termasuk orang yang mengandalkan PIKIRAN LOGIS yang nature-nya memang nggak banyak bicara dan menjaga jarak dengan orang lain (dingin). Disitulah saya banyak belajar bagaimana fokus memaksimalkan kekuatan yang ada di dalam diri. FOKUS SATU HEBAT.

Alhamdulillah setelah mengenal konsep STIFIn, hidup "Si Pendiam" ini lebih tenang ^^

Lalu, saya kadang juga melakukan refleksi... Maksudnya, refleksi proses berpikir yaa. Bukan refleksi pijat! Hehehe...

Saat refleksi, saya merasa bahwa apa yang saya lalui, apa yang saya lakukan, apa yang saya capai, semuanya menjadi sebuah proses PEMBUKTIAN KEKUATAN. Maksudnya gimana?

Gini. Secara natural, rasanya saya ingin membuktikan pada orang-orang bahwa "Si Pendiam" ini punya potensi. Saya ingin membuktikan bahwa "Si Pemalu" ini bisa melakukan sesuatu yang bermakna. Saya ingin membuktikan bahwa "Si Kaku" ini punya caranya sendiri untuk berkarya dan mewujudnyatakan mimpinya.

Salah satu bentuk pembuktian saya adalah saya ingin menjadi seorang Public Speaker.

Bagi beberapa orang, profesi Public Speaker ini hanyalah milik mereka yang banyak bicara, bukan milik "Si Pendiam." Kenapa? Ya karena tugas utama seorang public speaker ya bicara. Namanya juga "speaker".

Namun, saya buktikan bahwa anggapan itu salah. Saya belajar tentang Public Speaking dan akhirnya bisa meraih prestasi di bidang itu dengan menjadi Juara 1 dalam SpeakUp Contest - Young Trainer Academy 2 Jakarta yang diselenggarakan oleh CerdasMulia Institute. Semenjak itu, "Si Pendiam" ini pun beberapa kali mendapatkan undangan sebagai narasumber utama untuk mengisi pelatihan dan seminar.

Saya pernah diundang ke Jakarta, Bekasi, Bogor, Cilacap, Surabaya, dan kota-kota lainnya dengan kemampuan public speaking yang saya miliki. Universitas Indonesia, Universitas Mercu Buana, Kalbis Institute, SMA Negeri 1 Cilacap, dan beberapa institusi pendidikan lain pun pernah mengundang "Si Pendiam" ini untuk berbicara di depan para pelajarnya. Pembuktian berhasil! Alhamdulillah, 'kan? ^^

Saya juga pernah mendapat stigma bahwa orang-orang yang lebih "ramai" itu peluang suksesnya lebih besar! Padahal, Steve Jobs, Nelson Mandela, Jose Mourinho, Brad Pitt, dan Tiger Woods pun bukan orang yang "ramai", loh. Kurang sukses apa mereka? Hehehe..

Proses pembuktian selanjutnya pun dimulai!

Tiap orang memiliki definisi suksesnya masing-masing. Kalau kita tanya ke 100 orang, mungkin kita akan mendapatkan 100 definisi yang berbeda tentang kesuksesan. Betul?

Nah, bagi saya, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, salah satu hal yang membuat diri saya menilai bahwa saya sukses adalah dengan menerbitkan buku dalam skala nasional. Artinya, buku saya diterbitkan dan dijual di toko buku nasional seperti Gramedia.

Saya pun berusaha keras untuk menggapai impian itu. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa "Si Pendiam" ini punya caranya sendiri untuk mencapai impiannya. Perjalanan dimulai dengan rajin membuat konten tulisan di Facebook note dan blog aditriasmara.cerdasmulia.net (sekarang sudah non-aktif).

Kemudian, setelah beberapa waktu berjalan, saya pun berpindah ke blog pribadi saya aditriasmara.com pada tanggal 25 November 2015, tepat di ulang tahun ke-60 Ayahanda saya.

Setelah rajin menulis dan belajar dari Kak @ArryRahmawan - penulis buku best-seller "Studentpreneur Guidebook" dan founder CerdasMulia Institute, niat saya menerbitkan buku semakin tinggi. Anyway, Kak Arry ini adalah salah satu dari beberapa orang pertama yang membuat saya termotivasi untuk menulis. Thanks kak! ^^

Alhamdulillah, setelah belajar banyak dari beliau, buku pertama saya pun terbit. Sebuah buku pengembangan diri yang ditulis secara kolaboratif oleh para trainer muda yang berjudul "Sekeping Cinta". Buku ini akhirnya menjadi sumber motivasi baru, mencari sumber keyakinan bahwa saya pasti kelak bisa menulis buku sendiri dan menerbitkannya secara nasional.

Di akhir tahun 2016, tepatnya di bulan September, saya belajar dari Mas @BriliAgung, penulis 26 buku dan Founder Inspirator Academy, melalui program "Bikin Buku Club" Jakarta. Dalam program itu, saya dan teman-teman peserta program lainnya dibimbing dengan intensif untuk menyelesaikan naskah buku kami. Alhamdulillah, dari program itu, naskah buku saya akhirnya selesai!

Singkat cerita, setelah mengalami penolakan dari 3 penerbit mayor, akhirnya salah satu penerbit mayor di Yogyakarta, Penerbit Checklist, memutuskan untuk menerbitkan naskah saya yang berjudul SIMPLE & EASY ENGLISH. Buku tersebut diterbitkan pada tanggal 31 Juli 2017 sejumlah 3000 eksemplar dan saat ini sudah tersebar merata di seluruh Gramedia di Indonesia! Wah, Alhamdulillah! Kebayang dong gimana senangnya "Si Pendiam" ini!

Alhamdulillah juga, buku SIMPLE & EASY ENGLISH #SpecialEdition sebanyak 150 eksemplar sudah SOLD OUT dalam waktu 5 hari, tersebar ke 49 kota, 13 provinsi, dan 4 pulau besar yang ada di Indonesia. Apa kamu salah satu diantara orang-orang yang mendapatkan buku #SpecialEdition?  ^^

Anyway, pembuktian pun usai!  "Si Pendiam" bisa sukses mencapai impiannya tanpa perlu menjadi "ramai" :p

* * *

Pembuktian-pembuktian sederhana saya tadi sebenarnya nggak hanya saya perjuangkan untuk diri saya sendiri. Pembuktian-pembuktian ini pun saya tujukan untuk keluarga, adik, saudara, teman, serta murid-murid saya yang ada di sekolah.

Sederhananya, melalui pembuktian-pembuktian itu, saya hanya ingin menyampaikan PESAN kepada siapapun yang mengenal dan terhubung dengan saya, termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

PESAN yang ingin saya sampaikan sederhana...

Setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk berpendapat, untuk menilai, bahkan untuk menghakimi kita. Tapi apa yang orang itu katakan nggak akan menentukan siapa diri kita yang sesungguhnya. Apa yang orang itu katakan ggak menentukan masa depan kita. Jangan biarkan anggapan orang menghentikan impian kita. Jangan biarkan opini negatif merusak semangat kita untuk terus berusaha.

Kita lah satu-satunya orang yang bisa mendesain hidup kita sendiri dengan apa yang terus kita pelajari, apa yang terus kita lakukan, apa yang terus kita perjuangkan.

Percayalah bahwa kita terlahir dengan segala potensi yang ada di dalam diri kita. Yakinlah bahwa jika kita berusaha dengan maksimal, berdoa, dan terus berjuang tanpa kenal lelah, kita akan mampu membuat diri kita MERDEKA...

Ya, MERDEKA untuk menggapai impian kita. Ya, MERDEKA untuk menghasilkan sebuah karya. Ya, MERDEKA untuk menginspirasi negeri kita tercinta, Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku, aku bangga terlahir di tanah ini, tanah indah Sang Ibu Pertiwi! Terima kasih Indonesia!

Sunday, July 23, 2017

7 Contoh British Slang dalam Bahasa Inggris


Kamu pernah dengar kata QUID dalam bahasa Inggris?

"Tahu, mas! Quid itu artinya 'cepat', kan?"
"Bukan, itu QUICK!"

"Mmm.. Kalau gitu, Quid pasti artinya 'berhenti' ya?"
"Bukan juga. Itu QUIT! Ini tuh QUID. Yap, Q.U.I.D."

Ada yang tahu? ^^

Kemarin Jumat, saat saya sedang break mengajar, saya berbincang dengan rekan guru saya yang merupakan orang Inggris asli. Setelah berbincang kesana kemari (tentunya dengan bahasa Inggris), kami membicarakan satu hal yang menarik: SLANG.

Bagi kamu yang belum tahu, SLANG ini bukan nama salah satu band paling terkenal di Indonesia ya. Itu SLANK! Hehehe..

Dalam bahasa Inggris, SLANG adalah ragam bahasa non-formal yang dipakai sekelompok orang di daerah yang sama. Ada American Slang, ada Australian Slang, dan juga ada British Slang. Nah, karena rekan kerja saya ini adalah orang Inggris, maka yang kami bahas adalah British Slang.

Salah satu SLANG yang kami bahas adalah QUID. Yang artinya adalah... Pound sterling. Sederhananya, 1 Pound = 1 Quid. Ngerti ya?

Dari dua kata ini: POUND dan QUID, selama ini biasanya kita lebih sering mendengar dan menggunakan kata POUND. Nah, uniknya, rekan kerja saya ini bilang kalau ketika kita pergi ke Inggris, sangat jarang orang yang menggunakan kata POUND. Sebaliknya, lebih banyak orang yang menggunakan QUID.

"Almost everyone says QUID. If you go to England and you don't know what QUID is, then you'll get lost!", itu yang rekan kerja saya bilang.

Banyak yang bilang kalau belajar SLANG itu nggak penting. Padahal faktanya, SLANG itu sangat penting juga untuk kita pelajari. Bayangin deh kalau kita nggak mulai belajar sekarang juga tentang SLANG. Saat kita pergi ke Inggris, Amerika, atau ke negara lain yang berbahasa Inggris, kita bisa kebingungan.

Nggak mau, dong pastinya?

Kami berdua pun menutup percakapan kami hari itu dengan kesimpulan yang sama. Apa yang orang-orang Indonesia pelajari di buku pelajaran bahasa Inggris SD hingga SMA, merupakan bahasa Inggris yang sangat 'textbook' dan bersifat formal. Bagus sih, memang. Tapi, jangan hanya berhenti disitu saja. Pelajari juga ragam bahasa non-formal seperti SLANG ini.

Kenapa?

Ya karena kita nggak selalu berada di situasi formal, 'kan? Kita juga ada di situasi-situasi informal dalam kehidupan sehari-hari, yang tentunya menggunakan ragam bahasa non-formal juga.

http://www.egypt-last-minute.tv/wp-content/uploads/2017/03/diverse-multi-ethnic-friends-cheering-with-coffee.jpg

Selain QUID, saya akan bagikan ke kamu 7 BRITISH SLANG yang sering saya gunakan. Simak ya!

1. MATE: 'Friend' ('Buddy', 'Pal', 'Dude') >> "I'm going to call you tomorrow, MATE!"
2. BUGGER ALL: 'Nothing at all' >> "I've had BUGGER ALL to do all day."
3. KNACKERED: 'Exhausted' >> "I am absolutely KNACKERED after working all day."
4. GOBSMACKED: 'Shocked' >> "I was GOBSMACKED when I heard that news!"
5. DODGY: 'Illegal' >> "He got me a DODGY phone. I couldn't believe that!"
6. BRILLIANT: 'Something wonderful' >> "You get 100 in the exam? Oh, that's just BRILLIANT!"
7. CHEERS: 'Thank you' >> "CHEERS for getting me that drink, Frank."

Nah, itu dia 7 BRITISH SLANG yang kamu juga bisa gunakan dalam kehidupan sehari-hari! Catet yaa... Good!

Saya yakin setelah membaca tulisan ini sampai tuntas, kamu akan mulai mengerti apa itu SLANG, kenapa penting untuk dipelajari, dan apa saja contohnya. Semoga bahasa Inggrismu makin jago! Aamiin...

***

ACTION PLAN:

Setelah membaca tulisan ini, tugas kamu adalah...

Ambil selembar kertas dan sebuah pena. Sekarang, cobalah untuk membuat kalimat dengan 7 BRITISH SLANG yang sudah saya share di atas. Kalimatnya bebas. Sesuai dengan kemauan dan imajinasimu.

 Setelah kamu bikin tugasnya, kamu boleh foto dan upload ke social media dan mention saya di FB 'Adi Triasmara' atau Instagram @aditriasmara. Sip ya?

http://d279m997dpfwgl.cloudfront.net/wp/2014/03/0317_why-i-write_cog.jpg

Seperti biasa, saya nggak akan nagih tugas ini. Tapi, kalau kamu mengerjakannya, InshaaAllah bahasa Inggrismu akan makin baik. Kenapa? Karena kamu MAU PRAKTIK! Ini sangat penting.

Semoga kita dijauhkan dari ilmu-ilmu yang nggak bermanfaat dan nggak dipraktikkan. Aamiin..

***

P.S. Sejak mulai fokus belajar bahasa Inggris 8 tahun yang lalu, saya sudah menyadari pentingnya ragam bahasa informal.

Makanya, di buku SIMPLE & EASY ENGLISH yang saya tulis, saya juga memasukkan pembahasan mengenai ragam bahasa informal: SLANG & IDIOM. Selain memberikan penjelasan, saya juga menuliskan beberapa contoh ENGLISH SLANG & ENGLISH IDIOM yang bisa kamu pakai.

Buku SIMPLE & EASY ENGLISH - SPECIAL EDITION bisa kamu pesan pada masa Pre-Order mulai tanggal 31 Juli 2017. 



Sunday, July 16, 2017

Waspadai Mitos Belajar Bahasa Inggris Ini!


Mau bisa bahasa Inggris? Belajar langsung aja di INGGRIS!
MITOS atau FAKTA?

Banyak yang bilang...

Kalau mau pintar bahasa Jepang, ya pergi lah ke Jepang.
Kalau mau pintar bahasa Itali, ya pergi lah ke Itali.
Dan pastinya...
Kalau mau pintar bahasa Inggris, ya pergi lah ke Inggris.

Menurut saya pribadi, hal ini memang ADA BENARNYA. Mengapa benar? Begini...

Kalau kita pergi ke suatu tempat yang memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa keseharian kita, maka kita harus melakukan penyesuaian diri. Nggak mungkin dong penduduk asli yang harus menyesuaikan bahasa kita. "Lah, siapa kita?" Hehehe..

Kenapa penting melakukan penyesuaian bahasa?

Ya karena bahasa, baik lisan atau tertulis, adalah sebuah alat komunikasi verbal yang sangat penting bagi keberlangsungan manusia.

Bayangkan...

Saat kita mau makan, tentu kita perlu bahasa untuk memesan makanannya.
Saat kita mau pergi ke tempat baru, kita perlu bahasa untuk menanyakan arah.
Saat kita mau belanja, kita perlu bahasa untuk melakukan transaksi.

Kita harus memikirkan apa jadinya kalau kita nggak memiliki kemampuan bahasa yang baik. Gimana kira-kira?

Bakal repot dong, pastinya!

Alhasil, MAU NGGAK MAU, kita akan berusaha mati-matian untuk belajar bahasa yang digunakan masyarakat sekitar. Semakin kita beelajar dan mencoba menggunakannya, semakin bagus bahasa yang kita punya.

Selain itu, faktor LINGKUNGAN juga penting.

Ada di sebuah lingkungan yang menggunakan satu bahasa tertentu, akan membuat telinga dan mata kita familiar dengan bahasa tersebut. Kita akan terbiasa mendengar dan membaca.

Ingat... Dengan terbiasanya kita untuk mendengar dan membaca, maka kita akan merasa dimudahkan pula saat ingin berbicara dan menulis.

Kebayang, 'kan?

Nah, itulah tadi kenapa saya berpikir bahwa ADA BENARNYA juga saat kita bilang: Kalau mau belajar suatu bahasa, ya pergi lah ke negara asal dari bahasa tersebut.



Tapi...

Di sisi lain, saya berpikir ini juga merupakan sebuah MITOS dalam belajar bahasa Inggris. Mitos ini maksudnya sesuatu yang dianggap benar oleh sebagian masyarakat, sedangkan pada kenyataannya, belum tentu benar.

Kenapa saya bilang bahwa hal ini adalah MITOS?

Ada yang tau?

Ada yang bisa nebak?

Okay, gini. Katakanlah kita ingin belajar bahasa Inggris dan akan pergi ke Inggris. Secara logika, seharusnya kita malah harus belajar bahasa Inggris dari sekarang. Disini, di Indonesia. Bukan nanti, setelah sampai di Inggris.

Sekali lagi...

Katakanlah kita ingin belajar bahasa Inggris dan akan pergi ke Inggris. Secara logika, seharusnya kita malah harus belajar bahasa Inggris dari sekarang. Disini, di Indonesia. Bukan nanti, setelah sampai di Inggris.

Kenapa?

Kalau kita sudah belajar bahasa Inggris di Indonesia, kita nggak akan terlalu kesulitan untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru kita di Inggris nantinya. Kok bisa? Ya iya dong, kan at least kita sudah bisa bahasa Inggris.

Di sisi lain, andaikan kita baru mau belajar Inggris ketika kita sampai di negaranya David Beckham ini, maka kita sendiri yang akan kesulitan.

Selain bahasa, masih ada banyak hal yang harus kita sesuaikan saat berada di luar negeri, 'kan? Misalnya, masalah cuaca, budaya, kehidupan sosial, makanan, transportasi, dan lain-lain. Kalau kita bisa menuntaskan masalah penyesuaian bahasa saat kita ada di Indonesia, tentu akan sangat membantu.

Kita nggak perlu repot lagi adaptasi bahasa, hanya tinggal adaptasi aspek kehidupan yang lain. Asyik atau asyik? ^^



Makanya, dari sekarang, tonton deh video tutorial belajar bahasa Inggris, kursus bahasa Inggris, atau baca buku-buku khusus belajar bahasa Inggris. 


Kebayang ya? Ih, pinter deh!




Itulah salah satu mitos populer yang berkembang di masyarakat seputar bahasa Inggris. Namanya juga mitos, tentu kebenarannya masih perlu kita uji. Maka, jangan mudah percaya ya dengan mitos seputar bahasa Inggris!

Sebenarnya, masih banyak lagi daftar MITOS DALAM BELAJAR BAHASA INGGRIS yang harus kita pahami dan ketahui kebenaran logisnya. Saya nggak bisa bahas semua di postingan ini karena pasti akan jadi sangat panjang pembahasannya.

Tapi tenang, saya sudah bahas semua mitos di buku saya: SIMPLE & EASY ENGLISH kok.


Kamu bisa baca, pahami, resapi, dan ambil inspirasinya.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat! ^^


Salam,
Adi Triasmara


P.S. Nggak perlu di-SHARE, kecuali bermanfaat.

Sunday, May 28, 2017

Sebelum Belajar Bahasa Inggris, Miliki 3 Attitude Belajar Ini!


Untuk sukses, banyak sekali orang yang mencari tutorial Belajar Bahasa Inggris. Saya sadar itu. Saking banyaknya orang yang mau belajar bahasa Inggris, saya punya impian yang ingin terus saya wujudkan: Membantu sebanyak mungkin orang Indonesia untuk menguasai bahasa Inggris. 

Alhasil, saya nggak bosan-bosan menginisiasi program belajar bahasa Inggris online seperti misalnya #7DEM (7 Days of English Mentoring), #EnglishWaminar (English WhatsApp Seminar), #FUNELLA (#Funtastic English Class), #GLIVATAS (#English Private Class), dan saat memasuki bulan Ramadhan 2017 ini, saya membuat #7DOTELA (7 Days of Tenses Class).

Alhamdulillah program-program seperti ini sudah membantu ratusan orang untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih mudah. Nggak hanya melalui program online saja, saya pun mencoba mengedukasi banyak orang melalui tulisan yang saya buat melalui blog pribadi saya aditriasmara.com dan juga buku yang saya tulis: "SIMPLE & EASY ENGLISH"


Namun, meski banyak orang yang senantiasa Belajar Bahasa Inggris, banyak juga yang nggak menyadari bahwa ada faktor lain untuk mendukung kesuksesan kita dalam menguasai bahasa Inggris. Faktor apakah itu? Satu kata: ATTITUDE ^.^

Maksudnya bagaimana? Maksudnya baik kok. Hehehe.. Gini, faktor mentalitas seperti pola pikir, prinsip belajar, motivasi, dan sebagainya, berperan sangat besar dalam menentukan sukses atau nggak nya kita belajar bahasa Inggris. 

Ibaratnya pembalap legendaris Michael Schumacher nih ya, buku atau video tutorial bahasa Inggris yang kita punya tuh berfungsi seperti mobil yang ia kendarai. Sedangkan, ATTITUDE atau sikap kita dalam belajar bahasa Inggris itu, berfungsi layaknya bahan bakar yang siap menjadi pendukung utama untuk kerja mesin yang optimal. 

https://i.ytimg.com/vi/fgSvwbbs6ck/maxresdefault.jpg

Maka, belajar bahasa Inggris tanpa ATTITUDE yang baik dan benar, sama seperti Michael Schumacher balapan, tapi mobilnya didorong. Balapan sama odong-odong aja kalah! Lah, orang nggak ada bensinnya 'kan? Hehehe.. 

Saking pentingnya masalah ATTITUDE ini, saya sampai sediakan bab khusus di buku "SIMPLE & EASY ENGLISH" yang membahas hal-hal yang membuat kita tetap TERMOTIVASI dalam Belajar bahasa Inggris.

Nah, kamu nggak mau dong belajar bahasa Inggrismu itu nggak efektif gara-gara kamu nggak punya ATTITUDE yang benar saat belajar bahasa Inggris? Maka dari itu, silahkan pahami 3 ATTITUDE yang kamu perlu tanamkan saat belajar bahasa Inggris ini:

1. EMPTY YOUR CUP!



Ya, kosongkan "cangkirmu"! Saat kamu mengikuti kelas online atau membaca buku, akan ada kemungkinan kamu berkata dalam hatimu, "Ah, kalo ini sih gue juga tahu!" atau "Ini sih gue dah bisa!". Hal ini sangat natural terjadi. Saya pun kadang saat belajar berpikiran seperti itu. Tapi, saya sadar bahwa pola pikir ini sangat merugikan. 

Kenapa merugikan? Ya, karena kita kehilangan kesempatan untuk memperdalam ilmu yang "sudah kita tahu" tersebut. Kita kehilangan kesempatan untuk mempertajam pengetahuan kita, me-refresh apa yang sudah kita tahu. Alhasil, pengetahuan kita nggak lagi berkembang. 

Nah, saat kamu Belajar bahasa Inggris, baik melalui buku atau kelas online, kosongkanlah "cangkir"mu. Kosongkan "pikiran" dan "hati"mu. Bersiaplah menerima ilmu dengan optimal. Karena jika "cangkir" kita penuh, nggak akan ada "air" (ilmu) yang bisa masuk ke dalam diri kita. So, are you ready to EMPTY YOUR CUP? ^.^ 

2. ACTION, ACTION, ACTION!



Saya pernah nulis satu postingan Facebook di Group Belajar Bahasa Inggris, yang judulnya "UDAH LAH, NGGAK USAH PRAKTIK BAHASA INGGRIS!" Mantap ya? Hehehe.. Well, ini sebenarnya postingan tentang kegelisahan saya pribadi dalam melihat satu fenomena yang unik sekaligus bikin gemes! Apa itu?

Ada beberapa orang yang "teriak-teriak" bilang, "Masbro, ajarin gue bahasa Inggris dong!". Okay, nggak masalah. Dengan senang hati malah. Tapi masalahnya, setelah saya share bahasa bahasa Inggris seperti misalnya Bagaimana Belajar Bahasa Inggris Melalui Lagu, pas disuruh ACTION alias PRAKTIK, langsung kabur kayak lagi dikejar kuntilanak naik sepatu roda -.-

Pahamilah bahwa sebagus apapun buku yang kamu baca, sekeren apapun kelas online yang kamu ikuti, bahasa Inggrismu nggak akan berkembang saat kamu hanya jadi PENONTON! Jadilah PEMAIN yang kalau dalam olahraga gajinya jauh lebih mahal daripada penonton dan komentator. PRAKTIK dalam bahasa Inggris SANGAT PENTING dalam mengembangkan kemampuanmu!

3. MISTAKES? LET'S BE FRIEND!


Nggak mungkin rasanya kita bisa lepas dari yang namanya KESALAHAN saat kita sedang belajar. Belajar apapun termasuk belajar bahasa Inggris. Belajar masak, pasti pernah salah resep. Belajar gambar, pasti pernah salah kasih warna. Belajar mencintai, pasti... Ah, sudahlah. Hehehe.. Ya, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah SWT, bro! *GelarSajadah* 

SEMPURNA juga milik Andra & The Backbone. *LangsungKonser* 

Seperti yang saya tulis di buku saya, cobalah berdamai dan bersahabat dengan kesalahan. Karena dengan membuat kesalahan, berarti setidaknya kita PERNAH MENCOBA. Dan mencoba selalu lebih baik daripada sekedar menjadi penonton dan berkomentar. Coba, salah, perbaiki. Coba, salah, perbaiki. Coba, salah, perbaiki.

* * *

So, itulah 3 ATTITUDE dalam Belajar Bahasa Inggris yang wajib kamu tanamkan dalam hati dan laksanakan semaksimal mungkin. Dengan itu, saya yakin kemampuan bahasa Inggrismu akan berkembang dan meroket! Bagi kamu yang mau baca-baca lagi tentang sikap belajar bahasa Inggris, silahkan baca artikel saya di Hipwee INI. Kamu juga bisa siap-siap ikutan PRE-ORDER buku saya yang berjulu "SIMPLE & EASY ENGLISH". Gabung saja di Group Facebook untuk dapat update informasi terbarunya. 

Silahkan SHARE artikel ini jika bermanfaat ^.^

Sunday, May 7, 2017

Daftar Kesalahan Grammar yang Umum Dilakukan Orang Indonesia (Part 1)


Hallo, teman-teman pembaca sekalian! Bagaimana bahasa Inggris-nya? Sudah semakin cas cis cus? Semoga saja yaa ^^ 

Anyway, beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pertanyaan (well, mungkin lebih tepatnya request) dari salah satu teman via WhatsApp untuk cek teks pidato bahasa Inggris yang ia sudah buat. Ia membuatnya untuk kepentingan pidato kelulusan SMK. Wah, keren sekaliii!

Jaman saya SMA dulu, boro-boro pidato pakai bahasa Inggris. Tiap ada ulangan bahasa Inggris aja, saya langsung ngumpet! Hehehe..

Tapi itu duluuu. Lain dulu, lain sekarang dong! Sekarang sih kamu nggak perlu meragukan kemampuan bahasa Inggris saya *sombongnya keterlaluan* :p

Anyway, kembali ke topik. Teks yang teman saya kirimkan itu, ide besar terkait konten pidatonya sudah keren. Mantap pokoknya! Permasalahannya, masih ada kekeliruan dalam hal tata bahasa alias grammar yang dibuat, which is sangat NORMAL.

Ya, saya katakan sekali lagi bahwa kesalahan tata bahasa saat kita sedang dalam proses belajar bahasa Inggris itu sangatlah WAJAR. Bagaikan wajar yang menyingsing! "Itu FAJAR!" Oh iya, maaf!

Thursday, May 4, 2017

Hei, Masih Inget Ujian Nasional Bahasa Inggris-mu Nggak?


Hari ini, 4 Mei 2016, semua sekolah tingkat SMP melakukan Ujian Nasional Bahasa Inggris. Wuih, ngeri yaa..hehehe.. Nah, karena saya guru, saya juga mendapatkan tugas mengawas ujian nasional. Saya mengawas di salah satu SMP swasta di daerah Pamulang, Tangerang Selatan, yang menggunakan sistem UNBK - Ujian Nasional Berbasis Komputer. 

Seperti namanya, UNBK nggak lagi pakai media kertas dan pensil (kalau yang ini sekarang namanya UNKP - Ujian Nasional Kertas & Pensil), tapi pakai media komputer. Menarik ya? Jadi inget jaman-jaman SMP sama SMA dulu. Ujian nasional tu harus hati-hati banget ngerjainnya. Lingkarannya ga boleh keluar garis, kertas ga boleh kotor, lecek, atau basah, ngerjainnya ga boleh ngerjain di lembar jawab temen (yaiyalah!). Duh, ngerjain soal aja belum, stressnya udah tingkat akut! Hehehe..

http://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2016/03/24/us-un-56f2e04866afbd450c7e9d88.jpg?t=o&v=760

Anyway, ngomongin ujian bahasa Inggris nih. Seinget saya sih, dulu bahasa Inggris tuh jadi momok banget bagi sebagian siswa. Gimana nggak? Bahasa Inggris tu termasuk pelajaran yang "baru", 'kan? Era saya, era 90an, bahasa Inggris baru masuk kurikulum nasional waktu saya kelas 4 SD. Bandingin sama sekarang yang bahasa Inggris udah diajarkan sejak usia dini. Sejak TK, bahkan playgroup! Sadis euy!

Sunday, April 16, 2017

Buktikan Sendiri! 3 Langkah Ini Bisa Membantu Meningkatkan Kemampuan Pronunciation!


"Can you say that again, please?"

Sebagian dari kita mungkin sudah memiliki kemampuan tata bahasa yang baik atau penguasaan vocabulary yang lebih dari cukup untuk melakukan percakapan sehari-hari. Tentu percakapan yang saya maksud disini adalah percakapan bahasa Inggris ya. Hehehe..

Meski demikian, kadang saat kita berbicara dengan orang lain, terlebih lagi kepada seorang native speaker, mereka masih mengalami kesulitan untuk menangkap apa yang ingin kita sampaikan. 

Hal ini bisa terjadi karena mungkin saja kita berbicara dengan terlalu cepat, dengan volume suara yang terlalu rendah, atau dengan pengucapan (pronunciation) yang kurang jelas. Mudahnya, kalau memang kita berbicara terlalu cepat, ya kurangi saya kecepatan kita berbicara. Kemudian, jika memang kita berbicara dengan volume yang terlalu rendah, ya naikkan saya volume suara kita.

Monday, April 10, 2017

Idealkah Mengadopsi Model AIDA dalam Marketing sebagai Metode Mengajar yang Efektif?


Setelah dipikir-pikir lagi, sewaktu saya sekolah dulu, ternyata banyak hal yang mempengaruhi prestasi saya ketika belajar di sekolah. Hal-hal itu diantaranya adalah fasilitas sekolah, materi pembahasan di kelas, teman-teman satu kelas saya, dan pastinya para guru beserta metode belajar yang mereka gunakan di kelas. Dalam tulisan ini saya akan fokus pada hal yang terakhir saya sebutkan tadi: Guru dan metode mengajarnya.

Mengapa saya hanya fokus pada hal tersebut? Apa hal yang lain nggak penting? 

Bukan seperti itu. Saya fokus pada guru dan metode mengajarnya karena selain saya saat ini berkarir sebagai seorang pendidik, saya juga yakin bahwa faktor guru adalah salah satu faktor esensial yang menentukan prestasi siswa. 

Bahkan, belakangan saya membaca sebuah hasil riset yang dilakukan oleh Prof. John Hattie dari the University of Auckland yang mengatakan bahwa guru adalah faktor determinan tertinggi kedua, dengan angka 30%, terkait dengan prestasi siswa. 

Nah, tentu jika membahas secara keseluruhan tentang guru dan metode mengajarnya, tulisan ini akan sangat panjang a.k.a PUANJAAAANGGG BET! Hehehe.. Maka dari itu, saya akan fokus pada salah satu metode mengajar yang sudah saya terapkan setelah kurang lebih menjalani karir sebagai seorang pendidik selama lima tahun terakhir. Metode ini bernama AIDA

Apa itu AIDA? Well, mungkin sebagian dari kamu ada yang sudah tahu, namun ada juga yang belum. AIDA merupakan salah satu teori dasar yang dipakai dalam dunia pemasaran atau marketing untuk menjual suatu produk atau jasa. AIDA sendiri merupakan singkatan dari ATTENTION - INTEREST - DESIRE - ACTION. 

http://zenithmedia.ch/index.php?tinymceimg=grafik_1_1.png

Jadi, teori ini menekankan bahwa untuk membuat seseorang membeli produk atau menggunakan jasa yang kita tawarkan, kita harus menarik perhatian mereka, membuat mereka tertarik, membangkitkan keinginannya, dan tentunya memutuskan untuk menggunakan produk atau jasa yang kita tawarkan. Teori ini saya pelajari dari Pak Hasnul Suhaimi, mantan Presiden Direktur XL Indonesia.

"Loh, kok konsep marketing dipakai untuk mengajar?
Nggak cocok dong!"

Ijinkan saya menjelaskannya dengan lebih detil. Meski AIDA adalah metode yang lahir dari dunia marketing, namun saya percaya bahwa metode ini cocok diterapkan di dunia pendidikan. Seorang guru, dosen, bahkan seorang trainer pun bisa mengadaptasi metode ini dalam kelas-kelasnya. 

Saat kita mengajar, tentu kita memiliki tujuan yang ingin dicapai di akhir sesi pembelajaran. Biasanya, kita ingin murid, mahasiswa, atau trainee kita MAMPU melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Ingat ya, MAMPU. Bukan sekedar TAHU.


Bagi saya, proses mendidik bukan hanya proses transfer ilmu dari satu kepala ke banyak kepala. Lebih dari itu, proses mendidik adalah proses yang mampu mencerahkan pikiran, membangkitkan semangat, dan MENGGERAKKAN audiens untuk melakukan sesuatu. Singkatnya, sebagai seorang pendidik, saya akan membuat audiens (dalam hal ini siswa) saya agar TAHU, MAU, dan MAMPU. Nah, konsep AIDA inilah yang kerap menjadi "jembatan" bagi saya dalam meraih goal tersebut. 

Sebelum membahas lebih dalam lagi, saya ingin sedikit bercerita. 

* * *
Kemarin saat saya sedang bepergian, saya melewati sebuah restoran baru yang menarik perhatian saya dan juga banyak pengunjung. Restoran itu memutar musik dengan cukup keras dan menghadirkan "maskot" (boneka orang) yang berjoget di depan restoran dan siap menyapa dan berfoto dengan siapa saja yang ingin mampir ke restoran tersebut. Tak hanya itu, banner besar berwarna kuning terang bertuliskan BUY ONE GET ONE pun sangat jelas terpampang. 

Musik, maskot, dan banner besar itu cukup mencuri perhatian saya dan mampu menggiring saya untuk mendekat dan mencari tahu tentang menu yang ditawarkan. Setelah melihat menu dengan nama-nama yang unik dan tampilan gambar yang menarik, ditambah dengan sambutan hangat dari para pegawainya, saya pun memutuskan untuk menjajal makanan yang ada di restoran tersebut. Dan.. Walaaa! Maknyus juga ternyata! Hehehe..
* * *

Menurut saya, restoran ini sukses menerapkan metode AIDA dengan baik. Ia mampu mendapat perhatian saya (Attention), menghadirkan ketertarikan saya (Interest), memunculkan keinginan saya (Desire), dan akhirnya membuat saya membeli (Action). 

Sama halnya dengan proses pendidikan, kalau kita ingin membuat murid kita TAHU, MAU, dan MAMPU, kita juga harus mampu mendapat perhatian mereka, membuat mereka tertarik, memunculkan keinginan mereka untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya membuat mereka melakukan apa yang menjadi tujuan pembelajaran kita.

ATTENTION. Bayangkan jika restoran itu nggak memutar musik, menghadirkan maskot, dan memasang banner besar berwarna cerah. Mungkin nggak banyak orang yang tahu bahwa restoran itu baru buka dan menawarkan promo. Lebih parahnya lagi, mungkin ada juga beberapa orang yang bahkan nggak tahu kalau disitu ada restoran. Hehehe..

Sebagai seorang pendidik yang menghadapi murid-murid dengan latar belakang dan ketertarikan yang berbeda, mendapatkan Attention di awal pembelajaran. Setiap guru, dosen, atau trainer yang masuk ke dalam kelas, akan bersaing dengan penarik perhatian lain yang ada di lingkungan audiens. Misalnya, HP, film yang sedang hits, konser musik yang baru mereka kunjungi, buku yang sedang mereka baca, dan masih banyak hal lain yang bisa jadi lebih menarik daripada apa yang akan kita sampaikan. Untuk itu, kita harus mampu menarik perhatian mereka dengan cepat. 

https://www.teachermagazine.com.au/files/Raising_the_professional_status_of_teaching.jpg

Tentu banyak hal yang bisa dilakukan seperti misalnya membuka kelas dengan games-games sederhana pemecah suasana, dengan jokes, dengan sebuah cerita yang menginspirasi dan berhubungan dengan pembelajaran, bahkan dengan sebuah pantun. Dapatkan perhatian siswa sesegera mungkin, dengan cara yang POSITIF, untuk masuk ke tahapan metode selanjutnya. Yang saya maksud positif adalah dengan mencoba untuk nggak marah-marah, nggak bentak-bentak, dan lain sebagainya. Awali dengan kebahagiaan. Hehehe.. 

Anyway, kalau saat ini kamu Google dan menemukan bahwa ada versi yang mengatakan bahwa A dalam AIDA adalah AWARENESS, nggak perlu bingung dan khawatir. Intinya sama kok.

INTEREST. Kembali ke masalah restoran, kebayang nggak kalau misalnya setelah saya mendapatkan perhatian restoran itu, tapi nggak ada sesuatu yang membuat saya tertarik setelahnya. Menunya biasa-biasa saja, harganya nggak spesial, ruangannya sempit, ya pasti saya nggak akan Action dong, saya nggak akan beli. 

Dalam kelas, jika perhatian nggak diubah menjadi ketertarikan, maka semua usaha yang kamu lakukan untuk mendapatkan perhatian mereka akan sia-sia. Mereka akan kembali dengan "perhatian mereka masing-masing" jika ketertarikan dalam kelas nggak muncul. Cobalah untuk memunculkan ketertarikan dengan beragam cara yang menurut kamu paling efektif. Kamu bisa membawa alat peraga, menampilkan video, atau media pembelajaran lainnya. Intinya, menurut saya pribadi, siswa akan tertarik jika ia tahu dengan pasti tujuan ia belajar. Jawablah pertanyaan, "Mengapa murid, mahasiswa, atau trainee saya harus paham tentang materi yang saya ajarkan?" 

http://cdn.kingston.ac.uk/includes/img/cms/site-images/orig/kingston-university-de14fde-international-students---kingst.jpg

Usahakan untuk nggak menjawab pertanyaan itu dengan jawaban, "Ini tuntutan kurikulum." Jawablah dengan mengaitkan apa yang kita akan ajarkan dengan kehidupan NYATA para audiens. Kaitkan dengan manfaat NYATA yang bisa audiens rasakan kelak setelah mereka paham apa yang kita sampaikan.

DESIRE. Keinginan kuat saya muncul saat para pegawai restoran menyambut saya dengan baik, menjelaskan tentang menu-menu favorit yang jadi menu unggulan di restoran tersebut. Salah satu pegawai restoran juga menjelaskan tentang keunggulan yang dimiliki oleh resto ini seperti misalnya koneksi wifi dan photo booth menarik yang disediakan di lantai atas. 

Dalam pembelajaran, proses ini ditandai dengan keinginan kuat siswa untuk melakukan Action atau tindakan. Bagaimana memunculkan keinginan ini? Tentu banyak caranya seperti misalnya terus menggali rasa penasaran yang ada di dalam diri siswa sehingga mereka ingin mencoba dan menemukan jawaban dari permasalahan yang sedang dibahas. Selain itu, guru juga bisa memberi contoh tentang kesuksesan-kesuksesan yang diperoleh oleh salah satu tokoh ternama yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sedang menjadi fokus pembelajaran. Intinya, Desire adalah Call to Action atau panggilan untuk bergerak, panggilan untuk melakukan sesuatu. 

http://indonesiaexpat.biz/wp-content/uploads/2015/06/Teaching-abroad.jpg

Kadang kamu juga bisa menjelaskan kepada para murid tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari jika pengetahuan dan keterampilan yang sedang dipelajari ini gagal dikuasai oleh mereka. 

ACTION. Ya, langkah terakhir adalah tindakan. Langkah terakhir adalah duduk manis, menyantap menu favorit, kemudian membayar pesanan saya. Hehehe..   

Apa yang kita bangun sejak awal tentu akan menjadi sia-sia apabila kita gagal Closing alias gagal membuat murid TAHU, MAU, dan MAMPU. Ini adalah Behavior Stage dimana kita ingin melihat murid kita melakukan apa yang sudah ia pelajari. Kita ingin mereka merasakan sendiri pengalaman dan manfaat yang bisa ia dapatkan dari apa yang sudah dipelajari di kelas. Berikan fasilitas berupa bentuk kegiatan yang bisa membuat mereka melakukan Action. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak cara seperti misalnya meminta mereka untuk melakukan percobaan laboratorium, melakukan wawancara, membuat film pendek, mencipta poster, dan lain sebagainya. 

 https://scienceoxford.com/wp-content/uploads/2016/03/children-foam-experiment.jpg

Dengan fasilitas kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan juga dengan ketertarikan para murid, maka Action dalam keseluruhan proses pembelajaran pun menjadi menyenangkan dan tentunya BERDAMPAK. 

* * *

Bagaimana? Bisa juga 'kan konsep marketing menjadi salah satu metode belajar di kelas yang efektif dan menarik? ^.^

Bahkan, sebagian orang - termasuk saya, nggak berhenti sampai poin Action saja. Kadang saya menggunakan satu point tambahan yaitu S sehingga AIDA pun berubah menjadi AIDAS. Lalu, apa itu S? S disini adalah SATISFACTION. Satisfaction disini berarti kepuasan, bukan hanya berarti keberhasilan.


Satisfaction bisa di dapat dalam kondisi dimana murid merasa bahwa dirinya melakukan usaha yang terbaik dan kita sebagai seorang pendidik memberikan FEEDBACK atas Action yang mereka ambil. Memuji jika hasilnya baik dan MEMPERBAIKI jika hasilnya memang belum memuaskan. Dengan Satisfaction yang baik, murid-murid akan nggak sabar untuk menunggu pembelajaran-pembelajaran berikutnya.

Nah, saya menantang kamu untuk mencoba membawa dan menerapkan metode AIDA(S) dan membagikan pengalaman kamu di kolom KOMENTAR di bawah ini. Kamu juga bisa kontak saya via twitter dan Instagra, @aditriasmara. Anyway, saya juga pernah menuliskan materi tentang Desain Pembelajaran Aktif di Dalam Kelas. Bagi kamu yang penasaran apa saja yang saya bahas di dalamnya, kamu bisa klik DISINI


Friday, April 7, 2017

Survey Ketakutan Public Speaking


Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah faktam tepatnya hasil survey, yang cukup menggelitik perasaan saya. Bukan hasil survey tentang elektabilitas calon gubernur Jakarta, tapi tentang kegiatan berbicara di depan publik atau bagi sebagian orang lebih dikenal dengan istilah Public Speaking. 

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Chapman University, di tahun 2016, ada sebanyak 25.9% warga Amerika yang memiliki ketakutan terhadap Public Speaking. Mungkin kamu bertanya-tanya di dalam hati, "Ah, angka segitu sih kecil. Cuma 25,9% aja kok. Apa yang spesial? Apa yang bikin perasaan menggelitik?"

Saya nggak akan bicara apakah angka itu besar ataupun kecil karena hal ini bersifat relatif. Ada sebagian orang yang menganggap ini dalah prosentase yang besar, ada pula yang menganggapnya kecil. Tapi, hati saya tergelitik akan satu hal: Angka prosentase ketakutan bicara di depan publik (Glossophobia) ternyata lebih tinggi dari angka beberapa hal yang mematikan. Ya, MEMATIKAN. 

Contohnya, hanya ada 22,2% orang di Amerika, pada tahun 2016, yang takut terhadap banjir bandang dan 21,8% orang yang takut akan badai musim dingin. Coba perhatikan. Public speaking bahkan lebih menakutkan bagi sebagian orang jika dibandingkan dengan banjir bandang dan badai yang jelas-jelas memiliki potensi kematian yang besar.   


Lebih uniknya lagi, jumlah orang yang takut jika dirinya ada dalam Sakaratul Maut alias sekarat hanya ada 19%. Ditambah lagi, hanya ada 17,5% orang yang takut jika dirinya dibunuh oleh orang yang dia kenal. Sekarat dan dibunuh. Kurang menakutkan apa lagi coba? Kok bisa-bisanya sebagian orang lebih takut bicara di depan publik daripada mati? 

Hal ini menarik sekali bagi saya. Bahkan, Jerry Seinfeld, seorang pelawak tunggal kenamaan asal Amerika pernah mengatakan hal ini dalam salah satu show nya:

"Berdasarkan beberapa penelitian, ketakutan terbesar pertama bagi banyak orang adalah Public Speaking. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah kematian. Apa ini terdengar wajar? Ini artinya, bagi sebagian orang, lebih baik kita ada di dalam peti mati daripada harus memberikan pidato kematian dalam sebuah pemakaman."

(Jerry Seinfeld - Kutipan ini saya terjemahkan sendiri ke dalam bahasa Indonesia)
Tentu kita tahu bahwa Glossophobia bisa mendera siapa saja, setiap orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ketakutan ini bisa dialami oleh pebisnis yang harus melakukan presentasi, pencari kerja yang akan melakukan interview, bahkan bukan nggak mungkin juga dialami oleh para mahasiswa yang mendadak religius, terus berdoa, agar nggak ditunjuk oleh guru atau dosen untuk menjawab pertanyaan. Hehehe.. 

Kembali ke survey yang saya sebut di atas, fakta bahwa sebagian orang lebih takut untuk berbicara di depan publik daripada harus terkena bencana alam atau bahkan dibunuh tentu sangat kontroversial. Survey lanjutan menyatakan bahwa mereka takut jika hal-hal yang nggak diinginkan tiba-tiba terjadi saat mereka bicara di depan publik. Mereka takut kalau penonton sorakin mereka, terus lemparin mereka pakai sayuran mentah, demo minta mereka segera turun, siram mereka bensin, bakar mereka hidup-hidup, te ... Eh, maaf, terlalu semangat jadi lebay ya. Hehehe..

So, bagaimana? Setujukah kamu bahwa berbicara di depan publik itu lebih menakutkan daripada kematian? SHARE YOUR THOUGHT! ^^


*) Anyway, tulisan ini saya buat karena terinspirasi oleh salah satu bahan materi ujian praktik murid saya, Keisha Janita, tentang "How to Overcome the Fear of Public Speaking". 
 
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com